Candu Itu Bernama PUBG

92

Permainan tradisional telah digerus zaman. Anak-anak sudah bisa ceria bersama teman sebayanya dengan bermain PlayerUnknown Battlegrounds (PUBG). Tapi, faktanya, game smartphone yang lagi nge-hits ini juga diminati orang dewasa.

…………………

LIMA sekawan nongkrong di salah satu warung kopi (warkop) di Ponorogo. Mata mereka tidak menatap ke arah lain, selain smartphone yang dimiringkan dalam genggaman tangan. Seorang di antaranya tiba-tiba mengumpat bersamaan deru bunyi tembakan senjata dalam permainan PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG). Umpatan serupa menyusul kemudian dari beberapa rekan sebayanya. ‘’Seru main ini (PUBG, Red). Lawannya siapa saja dari seluruh dunia,’’ kata Ivan Saputra, salah seorang di antara kelompok itu.

Malam itu semestinya Ivan tidak tinggal sampai berlama-lama di warkop. Bocah 12 tahun itu seharusnya membuka buku pelajaran karena masih kelas VI SD. Namun, aktivitas itu kalah penting dengan permainan yang dinobatkan sebagai Game of the Year 2018 versi Steam, platform distribusi game digital. ‘’Saya main sama teman-teman sejak pulang sekolah. Selain di warung, kadang juga di rumah juga sih,’’ ungkapnya.

Lain dulu memang lain dengan sekarang. Ivan dkk minim informasi dengan jenis permainan tradisional. Mereka kompak menggelengkan kepala ketika ditanya “gobak sodor”. Respons berbeda kala disebutkan nama “bentengan”. ‘’Halah, game enggak canggih. Permainan orang tua jaman dulu. Enakan PUBG,’’ celetuk salah seorang teman Ivan.

PUBG memang menjadi candu. Game besutan Tencent dan Bluehole ini menggeser popularitas Mobile Legend. Fitur-fitur permainannya dinilai lebih oke punya hingga mampu menarik atensi battle royal lover. Di antaranya banyak lokasi tempat bertempur, jenis senjata yang lengkap, kostum menarik, hingga desain ciamik. Para pemain juga bisa bermain solo atau grup. ‘’PUBG ini mengajarkan arti pentingnya kerja sama, kalau tidak, ya pasti kalah,’’ timpal kawan lainnya.

Pemandangan Kohiring (Komunitas Hape Miring) bisa dilihat di banyak warung, kafe, atau tempat publik berfasilitas Wifi sediaan pemerintah. Muda hingga tua. Nggak percaya? Juni Susanto, warga Kelurahan Purbosuman, Ponorogo, contohnya. Bapak dua anak ini selalu menyempatkan bermain PUBG. Sebagai pengubur penat urusan pekerjaan. Dia tidak sendirian, teman-teman sekantor juga ikut-ikut WAR –sebutan ketika hendak perang lawan musuh. ‘’Main bisa sampai empat jam. Pukul 19.00 hingga 23.00,’’ kata karyawan salah satu perusahaan swasta di Madiun.

PUBG memang menyita banyak waktu. Satu sesi permainan saja minimal satu jam untuk mencapai chicken dinner. Istilahnya juara dalam satu sesi atau seluruh musuh bisa ditaklukkan. Tapi… mau bagaimana lagi, namanya juga candu. Menang atau kalah, WAR lanjut terus sampai lupa waktu. ***(nur wachid/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here