Madiun

Butuh Flyover di Pahlawan jika Double Track Beroperasi

MADIUN – Kawasan perlintasan kereta api di Jalan Pahlawan sisi utara jadi langganan macet. Kondisi itu akan semakin parah ketika double track atau rel ganda beroperasi. Problem serius di jalan nasional itu mendapat atensi dari DPRD Kota Madiun. Salah satunya, muncul gagasan pembangunan flyover atau jalan layang. ’’Kami sudah berkonsultasi dengan Bappenas, mengerucut ke flyover,’’ kata Wakil Ketua DPRD Kota Madiun Didik Yulianto kemarin (31/1).

Politikus PDI Perjuangan itu menjelaskan, saat konsultasi ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), disodorkan dua usulan. Yakni, pembangunan flyover dan underpass (jalur bawah tanah). Hanya, dari pembicaraan awal, yang paling memungkinkan konstruksinya adalah untuk jalan layang. Bahkan pada tahun ini memasuki tahap studi awal. ’’Sudah dipertimbangkan untuk melakukan studi awal ke daerah,’’ ujarnya.

Pemerintah saat ini belum punya program yang mengarah akan penanganan dampak dibangunnya double track. Nah, input dewan di Kota Karismatik ini dinilai bagus. Sebab, ada sajian dari problem di lapangan. ’’Memang ada respons dari pemerintah pusat untuk berencana menyurvei ke daerah terkait dampak itu (pembangunan double track, Red),’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Madiun kemarin (31/1).

Pada pertemuan itu pihaknya juga menyampaikan analisis dampak awal terkait pembangunan double track di Kota Madiun. Terutama di pintu lintasan kereta api Jalan Pahlawan sisi utara dan Sukosari.

Untuk di Jalan Pahlawan, keberadaan double track dikhawatirkan makin membuat arus lalu lintas kendaraan dari Jalan Yos Sudarso maupun Jalan Kompol Sunaryo menjadi crowded.

Belum lagi, keberadaan rel kereta api serong yang dipakai oleh PT KAI mengangkut bahan bakar minyak (BBM) dari Depo Pertamina Madiun kerap menyebabkan pengendara celaka saat musim penghujan.

Didik menambahkan, pembuatan jalur khusus di lintasan Jalan Pahlawan sisi utara tidak lepas dari kondisi saat ini. Kala jumlah kendaraan yang melintas banyak, frekuensi kereta yang melintas juga tinggi. ’’Saat ini saja ada 53 kereta yang melintas dalam sehari,’’ sebutnya.

Di mana setiap kereta api lewat sekitar 27 menit sekali. Selain itu, saat kereta melintas, jalur nasional tersebut ditutup empat menit. Dalam kurun tersebut, panjang kendaraan yang berhenti bisa mencapai 500 meter, terutama pada jam-jam sibuk. Rata-rata butuh waktu minimal enam menit untuk memecah kemacetan itu. Apalagi, jalan memang tidak lebar. Terutama di pintu perlintasan Sukosari. Setiap jalur hanya menampung satu kendaraan. ’’Padahal, ketika double track itu sudah jadi, intensitas kereta api yang melintas di sana makin tinggi,’’ jelas Didik.

Estimasi awal, tambahan jumlah kereta yang melintas di jalur itu bisa mencapai 100 kali per hari. Artinya, potensi kemacetan bakal makin tinggi. Kondisi itu, menurut Didik, harus ada solusi. ’’Belum ada double track saja, saat kereta reguler maupun kereta dari PT Pertamina lewat, itu memiliki dampak yang cukup besar terhadap arus lalu lintas. Bayangkan kalau ada double track,’’ ucap koordinator Komisi III DPRD Kota Madiun itu.

Dari kelaikan jalan, kata Didik, flyover memang layak dibangun di jalur perlintasan kereta api yang menghubungkan Jalan Pahlawan sisi utara dengan Jalan Yos Sudarso. Pasalnya, lebar jalan dianggap sudah sesuai kriteria.

Sedangkan untuk jalur perlintasan Sukosari yang menghubungkan Jalan S. Parman dengan Jalan Basuki Rahmat serta Jalan Sri Rejeki, menurut Didik, perlu dilakukan perencanaan matang. ’’Karena ketika di situ dibangun flyover, akan berdampak pada tingginya ganti rugi. Karena selain jalur yang sempit, juga kawasan padat permukiman. Kecuali memang bisa dibuat konsep underpass,’’ jelas politikus PDIP tersebut.

Sebelumnya, pada Agsutus 2018 lalu, Satlantas Polres Madiun Kota sempat menganalisis berapa banyak jumlah kendaraan yang melintas di pintu perlintasan kereta api Sukosari. Terutama, dari ruas Basuki Rahmat-Letjend S. Parman.

Kasatlantas Polres Madiun Kota AKP Affan Priyo Wicaksono menyebut, jumlah kendaraan roda dua (R2) yang melintas di ruas tersebut mencapai 220 unit per 60 detik. Pun, dalam rentang waktu yang sama, tercatat ada 105 unit kendaraan roda empat (R4) yang melintas. ’’Kami sengaja hitung di jam-jam padat, pagi dan sore,’’ kata Affan. (her/c1/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close