Buntut Teror Bom Surabaya, Penjagaan Mapolres Superketat

134

MAGETAN – Nama Magetan masuk dalam pusaran insiden bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo. Setidaknya, terkuak fakta bahwa Sari Puspitarini, salah seorang terduga pelaku teror bom di rusunawa Wonocolo, Taman, Sidoarjo, pernah tinggal di Jalan Sikatan nomor 1.008, RT 06/RW 02, Kelurahan/Kecamatan Maospati. Selain itu, ada nama Puji Kuswati, terduga “pengantin” bom di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro Surabaya, yang disebut-sebut alumnus SMAN 2 Magetan.

Kapolres Magetan AKBP Muslimin menyatakan, belum ada indikasi induk teror bom bunuh diri dua kota besar di Jawa Timur itu adalah Magetan. Dugaan saling berkaitan pun masih nihil. Sebab, pihaknya belum mendapatkan perintah Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror untuk mengambil tindakan lebih lanjut.

Menurut Muslimin, penyelidikan identitas Sari dan Puji sejauh ini lebih bersifat ke pencegahan. ‘’Kami memang diminta siaga satu oleh pimpinan. Tapi, arah kami bukan represif, melainkan preventif,’’ kata Muslimin, Senin (14/5).

Sekadar diketahui, keterlibatan warga Magetan dalam kasus terorisme tidak kali ini saja. Densus 88 Anti-Teror pernah menangkap dua warga yang terindikasi ikut campur tangan terorisme pada 2016 lalu. Yakni, Panji Kokoh Kusumo dan Gatot Witono.

Panji yang asal Desa/Kecamatan Karangrejo itu ditangkap di Stasiun Kroya, Cilacap, Jawa Tengah, pada Februari. Sedangkan Gatot, warga Kelurahan Selosari, diciduk di depan rumahnya, delapan bulan berselang. ‘’Semua wilayah kami monitor. Komunikasi juga intens kami lakukan dengan berbagai stakeholder. Intinya pencegahan,’’ tegas kapolres.

Muslimin menjelaskan, siaga satu diterapkan dalam peningkatan keamanan agar lebih siap dan waspada. Kegiatan itu berupa patroli serentak menyeluruh di kabupaten atau rayonisasi per wilayah hingga patroli dalam skala besar. Yakni menggandeng kodim dan satpol PP.

Pihaknya juga intens melakukan sinkronisasi pengamanan di sejumlah tempat ibadah seperti masjid dan gereja. ‘’Karena mereka punya tim penjagaan sendiri. Kalau ada situasi penting dan menonjol, mereka bakal menginformasikan ke kami,’’ katanya.

Penjagaan Mapolres Magetan kemarin terlihat superketat dibandingkan hari-hari biasanya. Pintu gerbang tertutup hingga menyisakan ruang untuk sepeda motor melintas. Jumlah penjaganya pun ditambah. Total ada tujuh personel. Perinciannya, tiga polisi dan dua polwan. Terlihat pula dua petugas dilengkapi senapan laras panjang. Mekanisme pemeriksaannya pun berbeda. Bila penggeledahan warga sipil langsung dengan kontak fisik. Kali ini langsung dihentikan petugas yang berjarak sekitar 1,5 meter dari pintu gerbang.

Pantauan Radar Magetan kemarin siang, ada seorang warga mengenakan sarung dan membawa tas hitam besar turun dari motor. Pria mengenakan baju koko putih itu langsung dihadang. Helm pengaman dilepas dan tas diletakkan di kursi yang sudah disediakan di dekat papan peraturan masuk mapolres.

Pria tersebut kemudian diminta membuka tas dan menunjukkan isinya ke petugas. Lelaki itu diperbolehkan masuk karena tidak ada barang mencurigakan dari isi tas tersebut. ‘’Saya mau salat berjamaah,’’ kata pria itu ketika ditanya petugas.

Muslimin menyebut sejatinya tidak ada yang berubah dari sistem pengawasan masuk mapolres. Namun, dilakukan peningkatan pada hal teknisnya. Yakni, jumlah personel, pemeriksaan lebih detail, dan petugas tidak boleh meninggalkan tempat jaganya. Langkah itu sebagai antisipasi pengamanan berkaca insiden bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya.

Peningkatan keamanan, kata dia, tidak akan berlangsung terus menerus. Bila situasi sudah kondusif, bakal kembali seperti semula. ‘’Estimasi waktu belum tahu. Menunggu perintah pimpinan,’’ ujarnya. (cor/c1/isd)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here