Budi Santoso Pantang Menyerah pada Nasib

20

Ujian bertubi menimpa Santoso. Usai separo kaki kirinya diamputasi karena diabetes, pria itu divonis kanker nasofaring. Meski begitu, dia tidak menyerah. Sejak empat bulan terakhir Santoso berjualan keliling untuk menyambung hidup.

_____________

Tangan Budi Santoso melilit kain gips cokelat di bagian kaki kirinya yang bekas diamputasi. Lalu, diambilnya kaki palsu yang tersandar di sudut ruang rumahnya. Setelah membetulkan posisi kakinya dan memastikan nyaman, sabuk kaki palsu itu diikatkan ke pinggang.

Kemudian, dia berjalan tertatih sambil kedua tangannya memegang kruk menuju halaman rumah di Jalan Perintis Kemerdeaan Gang IV itu. Budi lantas menaiki sebuah sepeda yang telah dimodifikasi untuk berjualan aneka minuman. Sepeda itu beroda tiga. Tangan kiri Budi digunakan untuk memegang kemudi dan rem depan. Sedangkan tangan kanannya untuk mengayuh.

Sementara, di bagian belakang sepeda terdapat kotak kayu berisi kompor gas dan sejumlah peranti untuk menyeduh minuman. Beraneka jenis minuman kemasan tertata rapi di rak kayu tersebut. ‘’Saya jualan dari pagi jam 07.30, siangnya istirahat sebentar di rumah, sore jualan lagi’’ kata Santoso.

Santoso mulai berjualan keliling sejak awal tahun ini. Sebelumnya, selama hampir satu tahun dia harus bolak-balik Madiun-Surabaya untuk mengobati kanker nasofaring yang dideritanya. Penyakit itu membuat rongga belakang hidung dan langit-langit rongga mulutnya tumbuh benjolan.

Empat bulan lalu, Santoso mulai menyisihkan sebagian uangnya untuk membuat sepeda khusus. ‘’Sepeda itu yang bikin tetangga saya. Selama tiga bulan itu saya juga belajar mengemudikannya,’’ papar pria 45 tahun ini.

Pada 2016 lalu dokter memvonis Santoso menderita kanker. Padahal, beberapa bulan sebelumnya dia harus merelakan separo kaki kirinya diamputasi karena penyakit diabetes yang telah menahun menggerogotinya. ‘’Sebulan sebelum saya menikah saya kena diabetes, tapi karena banting tulang kerja keras nggak pernah saya obati,’’ kenangnya.

Mengetahui kakinya harus diamputasi, Santoso sempat merasa putus asa. Yang terpikirkan kala itu adalah perannya sebagai kepala rumah tangga untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Beruntung, banyak orang yang bersimpati. Dia mendapatkan bantuan dari temannya sebuah kaki palsu impor seharga Rp 12 juta

‘’Harusnya kaki palsu setiap tiga tahun ganti. Karena mahal, saya tetap pakai. Setelah kemoterapi dan sinar radiologi, saya kurus sehingga jadi longgar. Lalu, saya tambahi gips ini,’’ jelasnya.

Singkat cerita, Santoso tetap bisa menafkahi keluarganya. Pria yang sebelumnya bekerja sebagai tenaga kasar gudang sebuah pusat perbelanjaan itu masih diperbolehkan bekerja meski harus pindah ke bagian admintrasi. ‘’Tapi, saya lebih banyak duduk,’’ ujarnya.

Baru berjalan beberapa bulan, akhir 2017 terjadi PHK besar-besaran. Padahal, kala itu Santoso sedang membutuhkan biaya pengobatan. Akhrinya, uang pesangon yang didapat dimanfaatkan untuk mengobati penyakit kankernya. ‘’Bersyukur, Allah maha adil, saya dikasih sakit tapi juga dikasih rezeki untuk berobat,’’ ungkapnya sembari menyebut sampai saat ini setiap tiga bulannya rutin kontrol ke Surabaya.

Tidak ingin penghasilan macet, Santoso berinisiatif berjualan keliling. Itu terinspirasi seorang pedagang keliling difabel yang sempat dilihatnya di Surabaya. ‘’Terus saya cari gambar sepeda orang cacat di Google dan dibuatkan tetangga,’’ kenangnya. **(dila rahmatika/sd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here