Bu Ipong Dorong Nasi Tiwul Jadi Produk Instan

44
OLAHAN KETELA: Ketua TP PKK Sri Wahyuni Muchlissoni menjajal memasak gatot, kudapan khas di Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, kemarin (4/3).

PONOROGO – Perempuan wajib berdaya supaya keluarga lebih sejahtera. Tim Penggerak PKK Ponorogo punya cara untuk mewujudkan hal itu. Tim yang diketuai Sri Wahyuni Muchlissoni itu mencanangkan one village one product kepada seluruh PKK yang tersebar di Bumi Reyog.

Kemarin (4/3) perempuan yang juga akrab disapa Bu Ipong itu mengunjungi PKK di sejumlah desa di Sambit dan Bungkal. Salah satunya Desa Kupuk, Bungkal, untuk menyuntik motivasi sekaligus melihat inovasi ibu-ibu setempat. ‘’Kupuk saya yakin mampu menjadi sentranya produk kuliner olahan ketela seperti tiwul instan,’’ sebut Wahyuni.

OLAHAN KETELA: Ketua TP PKK Sri Wahyuni Muchlissoni menjajal memasak gatot, kudapan khas di Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, kemarin (4/3).

Seharian berkeliling, Wahyuni takjub dengan produk karya ibu-ibu. Salah satunya di Kupuk, Bungkal. Di desa tersebut, rupanya para perempuannya mampu berdaya dengan menelurkan berbagai produk kuliner kreatif. Salah satunya adalah gatot dan tiwul. Kedua kudapan khas dari ketela itu banyak dibuat warga setempat. Wahyuni juga sempat mencoba memasak gatot. ‘’Tiwul buatan ibu-ibu desa ini dipasarkan sampai ke luar negeri. Ini tentu hebat dan bisa menjadi contoh desa-desa lain,’’ ujarnya.

Wahyuni juga mengajak masyarakat beramai-ramai beralih mengonsumsi nasi tiwul. Sebab, diakuinya ketela merupakan salah satu hasil bumi paling besar di Ponorogo. Hampir di setiap desa selalu ada. Banyaknya hasil bumi harus bisa dimanfaatkan betul. Selain menggali nilai ekonominya, olahan ketela seperti nasi tiwul juga tak kalah kandungan gizinya dengan nasi beras. ‘’Tiwul menyehatkan dan cocok dikonsumsi sebagai pengganti nasi,’’ tuturnya. ‘’Perlu inovasi agar tiwul semakin digemari,’’ imbuh Wahyuni.

Salah satu inovasi yang dinilai perlu adalah mengembangkan nasi tiwul menjadi produk instan. Produk serupa sudah diciptakan beberapa desa. Kupuk pun seharusnya mampu meniru. Terlebih, ibu-ibu PKK desa setempat sudah mampu mandiri menjual produknya hingga menembus pasar mancanegara. Wahyuni menyebut, berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) siap memfasilitasi pengembangan produk para ibu. Agar ibu berdaya dan kian menyejahterakan keluarga. ‘’Perempuan harus bisa berdaya dan bermanfaat untuk keluarga, desa, dan Ponorogo,’’ ajak Wahyuni. (naz/c1/fin/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here