Bryan Maulana Hakim dkk Ketagihan Jajal Lomba Film Pendek

110

Sukses di festival film pendek yang digelar Pakandayu dua tahun lalu membuka mata Bryan Maulana Hakim dkk serius menekuni dunia sinematografi. Selain rajin mengikuti lomba, sejak itu mereka kerap mendapat order membuat produk videografi.

——————

VIDEO itu awalnya menampilkan globe yang berputar-putar. Lalu, muncul tampilan seperti Google Map. Sebuah tanda panah menyisir beberapa kota di Jawa Timur hingga akhirnya membidik Kota Madiun. Setelah itu, menampilkan sejumah tempat ikonik seperti alun-alun, INKA, masjid kuno Taman, dan Kelenteng Hwie Ing Kiong. Juga industri batik lokal sampai pusat perbelanjaan. ‘’Ini video pertama karya kami yang berhasil dapat juara,’’ kata Bryan Maulana Hakim, salah seorang founder S.Cream Production.

Video berdurasi sekitar 10 menit itu pada 2017 lalu menyabet juara I sekaligus favorit festival film pendek yang digelar Pakandayu Kota Madiun. Saat ini video tersebut telah ditonton 12.782 ribu orang di YouTube. ‘’Sejak itu rajin ikut kompetisi film pendek. Bulan depan rencananya mau ikut lomba di Ponorogo,’’ ujarnya.

S.Cream Production dirintis Bryan saat masih duduk di bangku kelas X SMA. Bermula saat salah seorang guru TIK memintanya membentuk kelompok untuk mengikuti Festival Seni Siswa dan Lomba Nasional (FS2LN). Dia lantas menggandeng Yunus, Ilham, Ikhsan, dan Dhandy. ‘’Kebetulan mereka sama-sama suka sinematografi,’’ tuturnya.

Setelah formasi lengkap, mereka lantas berbagi tugas. Ada yang berperan sebagai produser, sutradara, editor, director of photography, dan cameramen. ‘’Kadang juga rangkap tugas. Misalnya editor sekaligus jadi cameramen,’’ terangnya.

Singkat cerita, dalam lomba tersebut mereka gagal meraih juara. Setelah itu, Bryan dkk jarang kumpul bersama. Sampai suatu ketika datang informasi lomba film pendek dari Pakandayu Kota Madiun. ‘’Lalu, coba-coba ikut,’’ tuturnya.

Tak disangka, video kreasi mereka berhasil menyabet juara. Sejak itulah mereka rajin mengikuti kompetisi, mulai lokalan hingga tingkat nasional. Beberapa di antaranya berbuah piala. ‘’Pernah juara III event KPI (Komisi Penyiaran Indonesia, Red),’’ ujarnya.

Tidak hanya itu, mereka juga mulai kebanjiran order pembuatan videografi untuk beragam momen. Mulai ulang tahun, pernikahan, acara gathering perusahaan,  hingga video dokumentasi acara sekolah. ’’Setelah kami menang itu, akhirnya sekolah membuka ekstrakurikuler sinematografi,’’  imbuh Dhandy.

Sejauh ini S.Cream Production sengaja tidak mematok harga mahal untuk setiap proyeknya. Range harga yang mereka tawarkan masih di kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. ‘’Hasilnya lumayan,’’ ungkapnya.

Kini kru S.Cream Production bertambah menjadi 11 orang. Biasanya, setiap ada informasi lomba atau orderan proyek, mereka akan berembuk bersama di grup WhatsApp. ‘’Nanti dipilih siapa yang bisa maju. Biasanya setiap tim hanya lima orang,’’ paparnya.

Saat ini kru S.Cream Production telah duduk di bangku perguruan tinggi. Mereka tersebar di Jogjakarta, Jember, Semarang, Bandung, sampai Tangerang. Terpisah jarak itu pula yang membuat mereka tak jarang menolak permintaan klien. ‘’Kemarin ada yang menghubungi kami minta dibuatkan videografi di Madiun, tapi karena teman-teman belum ada yang bisa mudik, terpaksa kami reject,’’ ungkapnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here