Broto Susanto Sulap Bonsai Mati Jadi Barang Kerajinan

77

Rasa eman seketika muncul di benak Broto Susanto saat melihat bonsai-bonsai mati. Bermula dari itu, tercipta barang-barang kerajinan bernilai ekonomi. Memanfaatkan media sosial, produk buatannya pun semakin dikenal.

RUANG tamu rumah Broto Susanto sepintas terlihat biasa saja. Setelah diamati lebih jeli, beberapa pot kembang di sudut ruangan mencuri perhatian. Bukan tanaman asli. Daunnya terlihat jelas berbahan sintetis. Namun, batang bunga tidak seperti biasanya. Meliuk-meliuk menyerupai pohon sungguhan. ‘’Dari bonsai yang sudah mati itu bahannya,’’ kata Broto.

Agak masuk ke arah dalam rumah di Dusun Krajan Wetan, Kecamatan Sine, tersebut, terdapat sejumlah bonsai mati. Broto mendapatkannya dari sejumlah kenalannya yang hobi menanam tanaman kerdil itu. Selama ini, telepon Broto kerap berdering menerima kabar adanya bonsai mati. ‘’Di daerah sini banyak yang suka bonsai,’’ ujarnya.

Pria 40 tahun itu sudah sedari lama menekuni kerajinan kembang berbahan bonsai mati. Broto mengingat, kali pertama membawa pulang bonsai mati sekitar 1999. Si pemilik pun dengan ringan mengangguk saat Broto memintanya. ‘’Daripada dibuang atau jadi kayu bakar,’’ ujarnya.

Awalnya ayah empat anak ini menjadikan karyanya sebagai hiasan rumah sendiri. Baru pada awal 2006 Broto memperjual-belikannya. ‘’Idenya ya karena bentuk bonsai yang sudah bagus. Di pikiran saya waktu itu, akan jadi barang bagus kalau bisa dipercantik lagi,’’ tuturnya.

Belasan tahun sudah Broto memoles bonsai mati menjadi benda bernilai ekonomi. Tangan-tangan yang terbiasa menempelkan beberapa daun sintetis berbuah hasil manis. Dari satu kerajinan komplet dengan pot, suami Dewi Puspitasari ini mampu mengantongi Rp 50 ribu sampai Rp 300 ribu. ‘’Iseng-iseng aja awalnya, wong saya dulu lulusan SMK jurusan bangunan,’’ katanya.

Belakangan Broto memanfaatkan media sosial (medsos) untuk memasarkan kerajinan buatannya. ‘’Buatnya kalau ada bonsai mati. Tapi kalau sengaja mencari akar-akar seperti itu juga bisa sepertinya,’’ tuturnya.

Broto saat ini getol mengenalkan kerajinan tersebut kepada muda-mudi di desanya. Teknik-teknik melubangi bonsai untuk tempat dahan tambahan sampai menempelkan daun, dibeberkan kepada yang mau belajar dan menekuni. ‘’Biar pemuda-pemuda di sini punya kegiatan tambahan  yang bisa menghasilkan juga,’’ ujarnya. ***(isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here