Bongkar Praktik Jual Beli Karcis Antrean RSUD Kota Madiun

476

MADIUN – Bau busuk praktik jual-beli karcis antrean di RSUD Kota Madiun kian menusuk hidung. Bahkan, tim rumah sakit pelat merah itu sampai melakukan penyelidikan internal. Pertengahan Januari lalu, tim sudah bergerak mengumpulkan fakta berbekal dari pengaduan masyarakat. ’’Kami temukan benar adanya, tapi itu bukan calo. Pemikiran saya itu oknum menjual jasa antrean,’’ ujar Kabag TU RSUD Kota Madiun Budi Wibowo.

Budi menjelaskan, penyelidikan berawal dari pengaduan salah seorang pasien tiga bulan lalu. Pelapor tersebut melihat praktik jual beli karcis antrean di depan rumah  sakit. Ada pasien yang menyerahkan duit kepada seseorang. Selanjutnya, menerima imbalan berupa karcis antrean dengan nomor urutan terdepan. ’’Selain dari laporan langsung juga dari media sosial (medsos),’’ ujarnya.

Lantaran desas-desus percaloan terus berkembang, Direktur RSUD Kota Madiun Resti Lestanti memutuskan turun gunung. Menelusuri kebenaran informasi tersebut. Berlanjut, hari berikutnya dua pegawai lainnya turut menginap semalam. ’’Kesimpulannya memang terindikasi ada (praktik) tapi pihak luar bukan rumah sakit,’’ terangnya.

Modusnya adalah ada oknum yang sengaja berjaga di sekitar ruang tunggu pasien sejak pukul 19.00. Diduga mereka menginap semalam di rumah sakit. Kemudian tiba dibukanya loket pukul 04.00 oknum bersiap  mengambil karcis antrean dari alat karcis elektrik.  ’’Aturannya setiap orang satu karcis, petugas diambil oleh petugas yang jaga jadi ada 10 oknum,’’ paparnya.

’’Dari informasi yang saya dengar dari 10 orang itu ada yang masih satu keluarga,’’ imbuhnya.

Diduga, sepuluh orang itu bersiap antre mendapatkan nomor awal. Yakni, 1-10 nomor. Loket resmi dibuka pukul 07.00. Nah, sebelum pembukaan loket, sejumlah oknum ini sejak pagi bersiap menawarkan karcis nomor yang dipegang ke sejumlah pasien yang hendak antre. ’’Ada yang telepon-teleponan dengan oknum karena sudah kenal atau menawarkan langsung ini yang saya kurang tahu detailnya,’’ bebernya.

Budi menduga praktik tersebut terjadi lantaran oknum melihat ada peluang bisnis di ruang tunggu RSUD. Semula oknum adalah orang yang ditugasi pasien menggantikan dirinya duduk di ruang tunggu menanti nomor karcis dibuka. ’’Mungkin dia dapat imbalan dari upahnya antre, makin banyak yang titip akhirnya diperjualbelikan. Salahnya disini,’’ paparnya.

Akibat temaun ini pihak RSUD bakal menerapkan sistem baru untuk mempersempit gerak para oknum. Dengan cara bakal memberlakukan surat rujukan asli yang berstempel dari fasilitas kesehatan tingkat satu. Jadi, sebelum antre pasien wajib menyerahkan surat rujukan tersebut sebagai tanda bukti. ‘’Karena sebagian besar yang rutin  ke rumah sakit adalah pasien BPJS,’’ bebernya.

’’Lah kalau mau dibawa ke hukum dasar hukumnya apa, praktik ini tidak bisa hilang seketika jadinya ya mempesempit gerak mereka (oknum),’’  ungkapnya.

Lanjutnya, dia menyebut jumlah pasien RSUD seiring berjalannya waktu kian bertambah banyak. Saat ini dalam sehari rumah sakit pelat merah ini menerima 700-800 kunjungan pasien. Wajar jika terjadi proses antrean yang panjang. ’’Dan orang lelah menunggu akirnya mereka minta tolong, teman, kerabatnya untuk diantrekan,’’ paparnya.

Sayangnya, Budi kurang tahu pasti keuntungan yang didapat oknum. Termasuk harga per karcis antrean. Pun, pihaknya kesulitan mempertemukan pelapor, oknum dan petugas dalam satu meja untuk meluruskan dugaan yang ada. ’’Tapi kalau pelapor menemukan kecurigaan pada petugas kami dilaporkan saja tidak masalah,’’ ujarnya.

Dan apabila pasien ingin mendapatkan nomor cantik mereka harus datang lebih awal. Sayangnya, beberapa orang  yang telah berusaha datang sepagi mungkin sebelum dibukanya loket karcis sudah mendapatkan nomor ke-100 sekian. Seperti Damiran, nenek 64 tahun ini meminta tolong cucunya mengambil nomor antrean ke rumah sakit. ‘’Dia datang ke rumah sakit setelah subuh, saya sudah dapat nomor 101, kalau mau dapat nomor kecil harus lebih pagi lagi,’’ ucapnya kepada Jawa Pos Radar Madiun. (mg2/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here