Bocah-Bocah Itu Setiap Hari Belepotan Lumpur saat Berangkat Sekolah

478

MADIUN – Bertahun-tahun, jalan penghubung antardusun di Desa Sugihwaras, Kecamatan Saradan, dibiarkan dalam kondisi tak layak. Padahal, jalan penghubung antara Dusun Cabe dengan Dusun Jambangan itu menjadi akses terdekat menuju SDN 4 Sugihwaras.

Saking tak layaknya, siswa dari Dusun Cabe yang hendak menuju sekolah di Dusun Jambangan itu harus nyeker. Jalan kaki sambil menenteng sepatu melewati jalanan berkubang lumpur tersebut. ‘’Kalau musim hujan begini jalannya susah dilewati,’’ ungkap Wahyu, siswa kelas VI SDN 4 Sugihwaras.

Setelah jalanan mulai diuruk, sebagian siswa mulai berani bersepeda. Namun, masih harus nyeker karena kontur jalanan tetap susah dilewati. Pergi pulang, Wahyu cs harus siap terkena cipratan lumpur yang menggenang. ‘’Jadi, harus selalu lepas sepatu,’’ ujarnya.

Suara hati Wahyu seharusnya lekas ditanggapi. Sangat tidak bijak membiarkan anak-anak seumuran sekolah dasar menempuh perjalanan dengan medan buruk setiap hari. Dari 2,5 kilometer jarak yang ditempuh dari rumah ke sekolah, Wahyu menaksir jalan dengan kondisi sangat buruk sepanjang 500 meter. ‘’Saya ingin jalannya enak. Saya ingin cepat sampai ke sekolah,’’ ucap siswa yang sebentar lagi menghadapi ujian nasional itu.

Kepala SDN 4 Sugihwaras Sutartik mengaku sangat prihatin dengan buruknya akses menuju sekolah yang dinakhodainya tersebut. Dia tak tega melihat anak didiknya harus susah payah datang ke sekolah. Dengan kondisi kaki yang selalu kotor berkubang lumpur setiap hari.  Seakan-akan tidak ada jalan yang layak bagi mereka. ‘’Kalaupun ada, itu harus memutar lebih jauh lagi,’’ ungkapnya.

Tartik sejatinya pernah mengundang pemerintah desa setempat untuk melihat langsung buruknya akses jalan menuju SDN 4 Sugihwaras. Saat itu, pemdes pun memberikan bantuan tanah uruk di pertengahan musim penghujan ini. Meski sangat membantu, bantuan ini tentunya hanya bersifat sementara. ‘’Setidaknya sudah ada tindak lanjutnya,’’ katanya.

Ke depan, Tartik ingin akses jalan menuju sekolahnya tak di-recovery ala kadarnya. Seyogianya mendapat penanganan maksimal agar kondisinya semakin mulus untuk dilewati kendaraan. Tartik pun paham, keinginan itu sulit diwujudkan lantaran jalan itu masuk lahan Perhutani. Tentu butuh kesepakatan bersama sebelum memperbaikinya secara permanen. ‘’Karena dilewati siswa setiap hari, saya ingin jalan itu diperbaiki kemudian hari,’’ harapnya.

Kepala Desa Sugihwaras Sukimin Nasrillah menyatakan tetap merencanakan perbaikan jalan tersebut. Kendati harus melewati proses panjang menuntut persetujuan dari pemilik lahan. Pemdes telah mengajukannya saat musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) tingkat kecamatan. ‘’Pertengahan tahun nanti, kami siap plotting anggarannya,’’ janjinya.

Untuk pengurukan, sejauh ini pemdes telah merogoh anggaran Rp 10 juta. Anggaran itu untuk mendatangkan 18 truk pengangkut material tanah uruk. Berbarengan kerja bakti pembuatan saluran air, tanah galiannya digunakan untuk menguruk. ‘’Nanti jalan itu akan dirabat beton biar awet,’’ jelasnya. (mg4/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here