BNNP Sita Tiga HP Napi

23

MADIUN – Petugas BNNP Jatim langsung bergerak cepat melakukan pengembangan ke Lapas Klas I Madiun pascapengungkapan paket empat kilogram sabu-sabu (SS) kemarin (3/5). Begitu kedua pelaku dilayar ke Surabaya, mereka bersama dengan petugas BNNP Riau bergerak menyambangi lembaga pemasyarakatan yang berada di Jalan Yos Sudarso itu pada Jumat siang.

Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut atas petunjuk yang mereka temukan sebelumnya. Di mana dari empat unit telepon genggam yang diamankan oleh petugas dari tangan Siti Artiasari dan Nathasya Harsono, terindetifikasi bahwa keduanya menjalin komunikasi dengan napi Lapas Kelas I Madiun.

Mereka adalah JS dan AL. Hasil dari penyelidikan itu kemudian ditanyatakan oleh Kabid Pemberantasan Narkotika BNNP Jatim, AKBP Wisnu Chandra ke Kalapas Madiun, Thurman Saud Marojahan Hutapea.

Dari situ didapati petugas lapas telah menyita tiga unit handphone dari kedua napi tersebut. Selanjutnya, oleh Wisnu beserta anak buahnya masing-masing handphone tersebut dicek. Pengecekan dilakukan pada poin pesan WhatsApp dan kode imei handphone tersebut. Selain itu, juga dilakukan pencocokan nomor telepon.

Kepada awak media, Wisnu menyatakan bahwa ini merupakan bagian dari upaya pembuktian kasus. Untuk itu, sejumlah alat komunikasi yang didapat oleh petugas lapas dari kedua napi bersangkutan kemudian pihaknya amankan. ’’Selanjutnya, kami akan melakukan pengolahan data dan melakukan intersepsi terhadap alat komunikasi supaya bisa menjadi pembuktian di persidangan nanti,’’ terangnya kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Terpisah, Thurman mengatakan pihaknya sangat mendukung program BNN. Terutama dalam upaya pemberantasan narkoba yang dikendalikan dari dalam lapas. Dia juga memastikan dalam proses penyelidikan pengungkapan kasus empat kilogram sabu-sabu, pihaknya siap tampil terbuka. ’’Kami tidak akan menutup-nutupin,’’ tegasnya.

Diakuinya, hasil pengembangan itu merupakan bentuk koordinasi yang telah dilakukan oleh Lapas Madiun dengan BNN. Terlebih ketika mereka meminta informasi pihaknya berusaha untuk menindaklanjutinya. ’’Kalau seandainya kami punya alat yang dipakai oleh BNN untuk melacak handphone napi, tentu akan memudahkan kinerja kita,’’ ujar Thurman.

Apalagi, menurut dia, hampir sekitar 89 persen warga binaan (WB) Lapas Madiun merupakan narapidana dengan perkara narkotika. Kondisi itu tentu menyulitkan pihaknya dalam melakukan pengawasan. Belum lagi, kondisi Lapas Madiun mengalami overcapacity. ‘’Warga Madiun yang berada disini (lapas) minim sekali. Mayoritas (napi) kiriman dari luar daerah. Seperti Surabaya, Malang, Mojokerto dan Sidoarjo,’’ terang Thurman. (her/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here