Bisnis Paper Flower Heriyanto Andy Pamungkas Beromzet Jutaan

26
PELUANG BISNIS: Riyan menunjukkan paper flower buatannya yang dipasang di salah satu rumah pemesan.

Membantu teman membuat dekorasi pernikahan memperkenalkannya pada usaha pembuatan paper flower. Kini, dari  usaha sampingan itu, omzet jutaan rupiah dalam sebulan mampu dikantongi.

————-

SUGENG DWI, Geneng, Jawa Pos Radar Ngawi

DI ANTARA tumpukan kertas jasmine, seorang pemuda jangkung sibuk memotong kertas. Dibentuk mirip kelopak bunga. Satu per satu, disusun melingkar. Layaknya perangkai bunga. Dalam sekejap lembaran-lembaran itu jadi rangkaian kuntum yang indah. Lengkap putik. Bunga-bunga itu dijejer memanjang. ‘’Tinggal dipasang di dinding sesuai pesanan,’’ kata Heriyanto Andy Pamungkas, pemilik usaha paper flower.

Riyan, sapaan akrabnya, sejak setahun belakangan menggeluti bisnis ini. Awalnya, warga Dusun Nglencong, Dempel, Geneng, ini mengakrabi seni melipat dan memotong kertas atas permintaan temannya untuk dekor pernikahan. Teman kuliahnya itu minim modal nikah. Dia pun berusaha mencari aksesori murah namun sedap dipandang. ‘’Setelah muter-muter gak ketemu yang cocok, istri saya menyarankan beli paper flower. Kebetulan saat itu mulai ngetren,’’ ungkap suami Mukti Nur Wijayanti itu.

Penasaran dengan bentuk simpelnya, Riyan tertantang membuat sendiri. Bermodal video tutorial YouTube, serta asah kemampuan dadakan, pria 29 tahun itu membuat bunga kertas. Minimnya basic seni membuatnya mengulang beberapa kali sebelum mendapat model yang diinginkan. Ukuran potongan kelopak yang berbeda membuatnya kesulitan menentukan proporsional bunga yang pas. ‘’Saya belajarnya pakai kertas manila yang mudah dicari,’’ ujarnya.

Sukses dengan percobaannya, Riyan lantas memilih kertas jasmine untuk bahan lantaran bersih dan mengilat. Tak disangka, karya perdana pria kelahiran 14 juli 1990 ini mendapat sambutan positif rekannya. Pun usai di-posting di akun WhatsApp-nya, permintaan dari calon pengantin lain mulai berdatangan. ‘’Waktu itu pas musim pernikahan,’’ kata sarjana ekonomi ini.

Kini, dibantu istrinya, dia mampu membuat dua set bunga kertas siap pasang. Karyanya dibanderol Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu. Pesanan tembus hingga kota-kota di Jawa Timur. Selain Ngawi, juga Madiun, Magetan, Blitar, Jombang, Sidoarjo, dan Tulungagung. ‘’Paling banyak dalam sebulan bisa sampai 40 set. Kalau hari biasa 20-an,’’ bebernya sembari menyebut pesanan paling banyak berasal dari acara pernikahan dan lamaran.

Saat libur kerja, Riyan menyiapkan stok kelopak bunga. Untuk mengantisipasi saat ada pesanan dadakan. Sehingga, proses pengerjaan bakal lebih singkat. ‘’Kalau sudah dipotong tinggal ditempel, jadi lebih cepat,’’ pungkasnya.*** (sat/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here