Bisnis Mahar dan Seserahan ala Yo Florensia Oriscayati

54
TERAMPIL: Mahar kreasi Yo Florensia Oriscayati dengan konsep dan tema rustic yang sedang hit.

Berawal dari bisnis handicraft, Yo Florensia Oriscayati membuka bisnis mahar dan seserahan. Lulusan Jurusan Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu sudah merintis bisnis sejak SMP. Kini usahanya sudah merambah pasar nasional.

———-

FATIHAH IBNU FIQRI, Mejayan

TANGAN gadis berhijab itu begitu terampil menggunting kain flanel warna-warni. Sesekali dia harus memegang lem tembaknya. Merangkai potongan demi potongan kain kaku itu menjadi sekuntum bunga yang cantik. Sekuntum itu kemudian dirangkai dengan kuntum-kuntum yang lain. Kemudian jadilah sebuket bunga.

Berkat hobinya yang keranjingan membaca buku soal kerajinan tangan membuatnya ingin mencoba. Sejak SMP, Yo Florensia Oriscayati sudah terbiasa main ke perpustakaan di sekolahnya dulu di SMPN 1 Mejayan. Sempat mencoba-coba meski tak ahli menjahit. Floren tetap mencoba dan kerajinan yang pertama kali dibuatnya adalah gantungan kunci berupa lambang grup band Ungu. ’’Awalnya respons teman-teman tidak begitu bagus,” kenangnya.

Namun, itu tak lantas mematahkan semangatnya. Dia tak terlalu menanggapi respons negatif orang-orang di sekitarnya. Floren terus mencari referensi dan memperbaiki produk kerajinannya. Bahkan, dia mendapat dukungan dari orang tuanya. Floren pun dibantu orang tuanya untuk mendapatkan les menjahit. Tentu, dia menyambutnya dengan baik. Semakin baik produknya, Floren pun mulai mendapatkan orderan dari kawan-kawan sekelasnya. ’’Bikin brosur sendiri dan dicetak sendiri, dan mulai cari reseller,” katanya.

Menuju bangku SMA, Floren pun makin melebarkan pasarannya. Tadinya hanya lingkup satu sekolah. Namun, produknya kemudian sudah dikenal oleh siswa yang ada di sekolah lain. Pesanan demi pesanan dia kerjakan sendiri. Meski begitu, Floren tak merasa kewalahan. Bahkan, bisnisnya terus lancar hingga akhirnya dia masuk kuliah. Merasa jaringan makin luas, dia tak ingin menyiakan kesempatan itu. ’’Mulai promosi di Instagram,” sebutnya.

Sejak itulah orderannya semakin banyak. Keuntungannya pun mulai naik. Floren semakin dikenal. Bahkan, sempat diundang untuk menjadi narasumber di salah satu acara perusahaan BUMN . Dia memberi materi tentang membuat usaha sampingan seperti yang dikerjakannya. Niatnya menyambung hidup ketika kuliah tidak sia-sia dan justru berbuah manis. ’’Di Madiun pun sempat diundang untuk jadi pembicara seminar,’’ ungkap Floren.

Setelah lulus kuliah, dia pun benar-benar memboyong usahanya kembali ke Madiun. Bahkan Floren akhirnya membuka rukonya sendiri di Jalan Ahmad Yani, Mejayan. Tak hanya berkutat di kerajinan berupa buket bunga dan gantungan kunci. Floren juga merambah seserahan dan mahar untuk pernikahan. Termasuk florist. Seiring banyaknya pesanan, Floren mulai mencari karyawan. ”Sempat ganti karyawan tiga kali, dan yang sekarang sudah bertahan 1 tahun. Ini ada tiga orang,” ujarnya.

Meski sempat kesulitan melatih karyawannya, Floren tak menyerah begitu saja. Butuh satu bulan penuh untuk benar-benar bisa menularkan ilmu ke karyawannya. Dia harus ekstra memperhatikan karyawannya hingga bisa mandiri tanpa harus ditunggui saat membantunya menyelesaikan pesanan. ”Syukur yang tiga ini bagus, mau bertahan dan belajar,” katanya.

Tiap bulan ada sebanyak 50 orderan mahar maupun seserahan yang harus digarap. Tema yang paling hit dan sedang diminati adalah tema jenis rustic. Tema yang banyak memanfaatkan bahan-bahan alami dan terlihat vintage itu cukup diminati karena terkesan low budget. Namun, jasa rakitnya tentu lebih mahal lantaran merakit bahan-bahan dari alam itu tidak mudah. ‘’Tapi, customer memang nyarinya yang seperti itu ketimbang tema-tema lain,’’ terangnya.  (fat/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here