Bisnis Jamu Ilegal di Beran Dibongkar Polisi

310

NGAWI – Praktik bisnis jamu ilegal dibongkar polisi. Dua orang diamankan. Masing-masing Yudi Abrar, 34, pemilik toko jamu Dewa Dewi di Jalan A. Yani, Beran, Ngawi; dan M. Yasin, 63, warga Klempon, Ngraho, Bojonegoro, selaku supplier. ’’Keduanya sebatas kami mintai keterangan, tapi untuk produk kami sita sebagai barang bukti,’’ kata Kapolsek Ngawi AKP Khristanto, Selasa (29/5).

Dua orang tersebut diduga melakukan tindak pidana mengedarkan obat dan bahan yang berkhasiat tanpa memenuhi standar mutu pelayanan farmasi. Padahal, pemerintah dengan tegas mengatur hal itu. Khristanto mengatakan, sebenarnya keduanya sudah lama menjadi target operasi (TO). Ada indikasi menyimpang dari bisnis yang dijalankan. ’’Kebetulan pas kami lagi operasi, penyuplainya datang, jadi langsung kami amankan,’’ jelas Khris, sapaan akrabnya.

Pihaknya juga sudah mendalami kasus itu. Awalnya yang menjadi TO adalah supplier. Namun, Khris mengaku sedikit kesulitan mengamankan pelaku. Lantaran setiap mengirim barang ke kawasan Pasar Beran, Ngawi, selalu berganti kendaraan. Bahkan tidak jarang pelaku nekat mengganti pelat nopol kendaraannya untuk mengelabui polisi. ’’Tapi saat itu kami bisa pastikan bahwa itu (kendaraan) pelaku. Setelah kami periksa langsung kami amankan,’’ terangnya.

Dari penangkapan itu, polisi juga berhasil mengamankan beberapa barang bukti. Baik dari tangan penjual maupun supplier. Barang bukti yang berhasil diamankan dari tangan supplier di antaranya satu unit mobil Toyota Avanza nopol S 1174 AF serta lima kardus berisi 60 botol jamu tidak terdaftar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sedangkan dari tangan penjual, polisi mengamankan puluhan bungkus obat maupun jamu berbagai merek. ’’Semua masih kami tahan untuk barang bukti,’’ urainya.

Saat ini beberapa sampel obat dan jamu itu sudah dikirim ke BPOM Surabaya untuk dilakukan uji laboratorium. Mengenai status tersangka, Khris menjelaskan saat ini keduanya masih dimintai keterangan. Tidak menutup kemungkinan statusnya akan dinaikkan menjadi tersangka. Namun, pihaknya perlu menunggu kejelasan mengenai hasil uji laboratorium dari BPOM dulu. ’’Yang jelas terkait administrasi maupun dokumen-dokumen penjualannya, mereka tidak ada,’’ ungkapnya.

Khris menegaskan bahwa menjual atau mengedarkan obat maupun bahan berkhasiat lain yang tidak memenuhi standar mutu pelayanan farmasi telah melanggar peraturan pemerintah. Jika terbukti, pelakunya dapat dikenai pasal 98 ayat 2 dan 3 juncto pasal 196 Undang-Undang RI Nomor: 36/2009 tentang Kesehatan. Dengan ancaman hukuman maksimal sepuluh tahun penjara atau denda sebesar satu miliar rupiah. (tif/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here