Bersaing Raih Predikat Ratu Tanjakan

116

MADIUN – Siapa yang menyandang predikat Queen of Mountain (QOM) di event Karismatik Cycling Community (KCC)? Susah diprediksi. Persaingannya ketat. Cyclist lokal maupun luar daerah sama-sama ngotot. Apalagi, untuk katagori ini akan diramaikan atlet-atlet perempuan cabor triatlon Jawa Timur.

Rute perpaduan flat dan tanjakan di event KCC akan menjadi ajang pembuktian. Siapa cyclist perempuan terkuat yang pantas menyandang ratu tanjakan Sarangan. Dari Jawa Tengah, tentu sudah tidak asing dengan nama Sri Suyamti. Cyclist perempuan Happy Monday (Solo) itu pernah menyabet gelar QOM pada event Srambang Challenge dan Jamus 100 KM. Pun, beberapa podium pertama sejumlah event bersepeda di Jawa Tengah. Masih dari Jawa Tengah, juga ada nama Maria Dea. Power dan ketahanan Maria di rute tanjakan patut diwaspadai.

Sederet cyclist luar kota yang potensial meramaikan perebutan QOM di antaranya Novita Lestari (pehobi triatlon), Nina Puspawardhani (Happy Monday), Putri Puspita, Karina Mayasari (MRT), Maudy Margareth, dan Siti Mahmudah. Dua partisipan terakhir yang sama-sama dari Khepo CC. Maudy malah tercatat meraih podium 3 pada event Bromo Challenge kelas Women Master A. Masih ada juga lima atlet triatlon Jatim yang saat ini berlatih di Jasalindo Sport, Malang. ’’Target kami sapu bersih untuk kategori Women Exhibition,’’ ujar Armand Van Kempen, manajer tim Jasalindo Sport.

Dia mengatakan, memang menu latihan bukan khusus bersepeda. Namun, keikutsertaan atlet-atlet yang diproyeksikan masuk di SEA Games 2019 di Filipina itu juga untuk mengukur kemampuan. Termasuk melihat progres dari latihan yang sudah dijalankan. Apalagi, partisipan-partisipan di event Karismatik Cycling Community juga kompetitif. ’’Untuk kategori student challenge juga sama sapu bersih, sedangkan Under 40 Open mungkin akan berat saingannya,’’ ujarnya.

Namun, para cyclist luar daerah juga tidak akan mudah menaklukkan tanjakan Sarangan. Cyclist lokal tentu akan memberikan perlawanan. Sebab, mereka tentu sudah sangat paham dengan karakter tanjakan Sarangan. Dini Edgar Oktaviana, cyclist BRB, misalnya. Meski pesaing cukup berat, dirinya tetap optimistis. Hal senada diamini Ristian Hidiyati dan Royin Yuni Safitri, dari Srikandi CC/WRBM. ’’Kuncinya pada niat, dan kerja keras sampai finis,’’ ujar Risti.

Sementara itu, sejumlah cyclist memang masih asing dengan rute Karismatik Cycling Community. Namun, semua menyukai event tersebut. Apalagi, lebih dulu diajak city tour di Kota Madiun. Kota yang begitu terkenal dengan sebutan Kota Karismatik. Pun, ada beragam makanan tradisional yang khas. Seperti pecel dan brem. Kota Madiun juga dikenal dengan kue bludernya. ’’Tak ada target khusus, ya asyik saja pertama kali nantinya ke Kota Madiun dan ikut event bersepeda,’’ ujar Novita Lestari, cyclist yang baru pulang dari Thailand mengikuti event triatlon Iron Man dan peraih podium 3 GFNY Samosir.

Senada disampaikan Maudy Margareth, cyclist Khepo CC. Dia mengaku sudah berlatih khusus di rute KCC. Bahkan, sudah dua kali finis sampai Cemoro Sewu. Namun, melihat komposisi partisipan, tentu akan berat persaingannya. Namun, dirinya tidak akan menyerah begitu saja. ’’Bersepeda di tanjakan itu berbeda, butuh latihan khusus,’’ ujar peraih podium 3 di event Bromo Challenge 2018 kelas Women Master A. (ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here