Berlindung di Pohon Randu Bersama Tikus dan Luwing

403

NGAWI – Kejadian dramatis beberapa hari lalu menimpa Arif Rosidi dan Arina Fithroh. Bersama dua anaknya, mereka terjebak di area persawahan pinggir ruas tol Ngawi-Wilangan. Beruntung, keluarga itu akhirnya mendapat pertolongan pengguna jalan yang sedang melintas.

SIANG kemarin Arina Fithroh tampak sedang menyuapi dua buah hatinya di teras rumah. Bangku kayu berbentuk panjang mereka tempati bersama. Sang ibu duduk agak serong di tengah-tengah. Siva Nur Karomah nangkring di sandaran bangku. Sementara, Kamim Nur Mahmudin adiknya yang masih tiga tahun sengaja dibujuk dengan smartphone agar mau makan.

Mulut Kamim menganga sambil asyik menotol-notol layar gadget, menyambut kuncupan tangan ibunya yang berisi nasi dan lauk. ‘’Sudah ya, habis ini tidur,’’ kata warga Dusun Sumberejo, Desa Kersikan, Ngawi, ini.

Sambil menenteng piring kosong, Fitroh lantas masuk ke rumahnya. Sebuah bangunan dengan lumpur perabot rumah tangga yang masih berserakan akibat banjir. Beberapa saat berselang, dia kembali duduk bersama Siva dan Kamim yang berebut smartphone. Fithroh berusaha menenangkan si bungsu yang merengek lantaran kakaknya tak mau kalah. ‘’Seperti ini ramainya,’’ kata perempuan 35 tahun tersebut.

Cengkrama ibu-anak di sebuah bangku itu menyimpan kisah pilu. Fithroh beserta keluarga berusaha bangkit dari bencana banjir yang melanda desanya beberapa hari belakangan. Bekas lumpur dan jemuran berbagai perabot rumah menjadi pemandangan utama di halaman. Pun, sejumlah rumah lain di sepanjang gang masuk rumah Fithroh. ‘’Kamis (7/3) pukul 08.00, air sudah naik ke halaman,’’ ujarnya.

Bekas-bekas banjir bisa dibersihkan bersama anggota keluarga. Namun, sekitar setengah jam bertahan dengan penuh pasrah di banjir setinggi leher tidak mungkin terhapus di ingatan Fithroh. Bersama kakak dan dua anaknya dia terjebak di area persawahan pinggir tol ruas Ngawi–Wilangan.

Fithroh ingat betul wajah Kamim di gendongan. Si bungsu menggigil hebat dengan leher ke bawah sudah terendam air. ‘’Nyebut sebisa-bisanya,’’ kata pekerja pabrik baju tersebut dan lantas memeluk Kamim dengan penuh luapan rasa syukur.

Berkaca-kaca mata Fithroh mengenang peristiwa yang dialaminya pada Kamis siang (7/3) itu. Dia ibarat lolos dari lubang jarum dengan taruhan nyawa. Fithroh tidak bisa berenang. Di tengah-tengah banjir sambil nyunggi tas dan menggendong Kamim, dia menanti pertolongan selama puluhan menit.

Kakinya meraba-raba pematang sawah untuk mendapatkan tempat lebih tinggi. ‘’Kamim sebelumnya di dalam bak. Beberapa kali kemasukan air sebelum akhirnya bak hanyut,’’ ujarnya.

Kedinginan dan terpaan arus bukan satu-satunya yang terpatri di benak Fitroh. Kencangnya laju air berwarna cokelat itu, membuatnya berjibaku menyelamatkan diri. Perlahan, kakinya melangkah. Sekuat tenaga dia menopang badan dari empasan banjir menuju pohon randu.

Fithroh sedikit lega dan merasa aman sesaat setelah meraih batang pohon. Namun, bukan hanya dia bersama Kamim di gendongan yang mencari selamat. Berbagai jenis binatang juga menempel di pohon tempatnya berlindung. ‘’Tikus, luwing (kaki seribu, Red), semut, semuanya naik ke pohon. Banyak ular yang hanyut di air juga,’’ kenangnya.

Sekitar setengah jam Fithroh berada di tengah-tengah banjir dengan kepasrahannya. Napas kelegaan baru berembus sesaat setelah dua keluarga pengguna tol memberi pertolongan. Matanya memandang penuh harap kepada para penolong.

Bibir Fithroh yang menggigil tak henti bersyukur. Dadanya plong setelah mengetahui dua buah hatinya yang kuuyub diangkat melewati pagar kawat besi. ‘’Bersama kakak saya waktu itu. Kamim saya gendong, Siva dengan Pakde-nya (Arif Rosidi, Red). Sekarang bersih-bersih di belakang,’’ tutur Fithroh.

Sejurus kemudian, Arif keluar sembari menggenggam serbet. Pria 47 tahun itu lantas menuju kursi yang tengah dijemur. Segulung selang diraihnya. Beberapa luka gores yang masih merah tampak di lengannya saat mengelap kursi. Serampung memasukkan kursi ke dalam rumah, dia bergabung dengan Fitrhroh dan dua keponakannya. ‘’Bobok ya,’’ kata Arif yang lantas disambut Fithroh dan putra-putrinya beranjak dari tempat duduk.

Beberapa saat berbincang, mata Arif tampak berair mengingat kejadian terjebak banjir di area persawahan pinggir tol ruas Ngawi-Wilangan itu. Inisiatif memilih jalur persawahan datang dari pria yang kesehariannye bekerja serabutan ini. Keputusan menerjang banjir tersebut diambilnya lantaran mempertimbangkan peristiwa serupa 12 tahun silam. ‘’Perkiraan saya, di sawah banjirnya tidak terlalu tinggi,’’ ujarnya.

Sekitar pukul 10.00 Arif bersama adik dan dua keponakannya mulai menerjang banjir. Itu setelah dia menyelamatkan hewan ternak saat banjir belum tinggi. Di dalam banjir, Arif berjalan sambil memundak Siva kurang lebih tiga jam sebelum akhirnya terjebak di pinggir tol.

Dengan kondisi tubuh yang sudah lelah, upaya keluar dari banjir tidak menemui hasil. ‘’Sempat cari-cari celah pagar kawat sambil mundak Siva. Karena panik, nggak terasa tangan beret kena kawat,’’ ujarnya.

Tak ada jalan keluar dari banjir. Arif dan Fithroh mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk berteriak minta tolong. Sempat terbesit di kepala Arif bahwa semuanya akan berakhir. Selain banjir, juga gerimis. Beberapa kali kendaraan melintas, tidak ada yang mengetahui keberadaannya di dalam banjir.

Dia tidak ingat berapa kali berteriak. ‘’Pertama berhenti satu mobil, kemudian saya larang masuk ke banjir karena orang itu tidak bisa berenang setelah saya tanya,’’ terangnya.

Beberapa saat kemudian, datang penolong kedua. Satu mobil berisi yang diketahui adalah keluarga anggota Polres Kediri. Si penolong kedua bisa berenang, Siva diserahkan melewati atas pagar kawat. Berikutnya, Kamim diselamatkan.

Arif memandang lega setelah dua keponakannya mentas dari banjir lalu di bawa ke pinggiran tol. Bentangan kawat paling bawah dia injak, menelusup ke dalam air, lantas ke luar dari pagar. ‘’Alhamdulillah. Kalau diberi kesempatan saya ingin bertemu dengan orang-orang itu. Yang tidak bisa berenang itu saya belum tahu namanya,’’ terang Arif.

Di pinggiran tol, Arif dan keluarganya diberi pakaian ganti. Arif mendapatkan kaus hitam. Fithroh diberi daster. Siva kedodoran dengan jaket kelir cokelat. Sementara Kamim, dibalut selimut bergambar kartun. Tak henti mulut Arif mengucapkan rasa terima kasih dan bersyukur bisa lolos dari maut. ‘’Kasihan dua ponakan saya. Pagi hari setelah bangun, mereka langsung menanyakan jaket dan selimut itu,’’ katanya agak tersedak menahan tangis.

Pilu berhenti sampai di situ. Arif dan Fithroh yang hendak ke Gandu, Magetan, merasa tidak enak saat si penolong menawarkan untuk mengantar. Selain merasa segan, Arif juga memperhitungkan tujuan mengungsi dan posisi keluar jalan tol di Madiun.

Mereka berjalan kurang lebih 150 meter menyusuri pinggiran tol hingga menemukan kumpulan beberapa warga yang juga mengungsi. ‘’Cari pinjaman motor gak dapat-dapat. Setelah dapat dari tetangga, di jalan besar (Ngawi–Maospati, Red) lama juga dapat busnya. Sampai di Gandu setelah Magrib,’’ ujarnya. ***(isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here