Berkumpul Bersama, Agus Satu Agus Semua

45
AABI DAC Ponorogo: Puluhan Agus berkumpul akhir pekan.

Sembilan puluh empat orang yang namanya ada unsur Agus-nya berhimpun. Menyatu dalam komunitas Agus Agus Bersaudara Indonesia (AABI) Dewan Agus Cabang (DAC) Ponorogo. Selain mengejar keanggotaan seratus orang, mereka berharap Sekda Ponorogo Agus Pramono ikut bergabung.

———-

DILA RAHMATIKA, Jawa Pos Radar Ponorogo

PAK AGUS….’’ Semua yang duduk lesehan di warung Jalan Gatot Subroto itu menolehkan kepala. Berpenadon dan ikat kepala, mereka berkumpul di Warung Pecel Haji Luluth. Merayakan ulang tahun salah seorang anggotanya. Nasi tumpeng yang tersaji berhiaskan bendera merah putih dengan tulisan Ulang Tahun Agus. Entah, Agus mana yang bertambah usia malam itu (17/8). Sebab, nama semua anggota ada Agus-nya. Meski begitu, bagian dada kiri penadon ditempeli kertas bertuliskan tambahan nama panggilan. ‘’Untuk memudahkan memanggil aja. Seperti Gus Pecel, yang punya warung ini,’’ kata Agus Budi Prasetyo.

Di komunitasnya ini, Agus Budi Prasetyo dipanggil Gus Gajah. Ada juga yang dipanggil Gus Listrik, Gus Al —kepanjangan dari Agus Alriano. ‘’Agar mudah diingat dan saling memberi manfaat,’’ terangnya.

Karena masih kental nuansa kemerdekaan, pertemuan malam itu dibuka dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya. Yang tak kalah unik, ketika seorang Agus membagikan lembaran berisikan tiga bait mars Jayalah AABI Kita. Puluhan Agus bersaudara bersenandung kompak tanpa iringan musik. Agus Agus Bersaudara Indonesia, Di Satu Nama Kita Berjumpa, Meskipun Berbeda Suku dan Keyakinan, Semboyan Bhineka Tunggal Ika, Jayalah AABI Kita, Jayalah AABI Kita. ‘’Sebenarnya prakarsa awal AABI ini di Jawa Barat sampai melebar ke Ponorogo,’’ kata Agus Alrianto, ketua AABI DAC Ponorogo.

AABI DAC Ponorogo berdiri 2016 silam. Semula, Gus Al bersama ketiga rekannya tertarik mendirikan AABI DAC Ponorogo. Demi menambah persaudaran sesama anggota dengan nama sama. Syarat bergabung komunitas ini, namanya harus ada unsur Agus-nya. Salah seorang anggotanya bernama Agustina, yang tetap mengandung unsur Agus.  ‘’Kami merasa unik. Apa salahnya dicoba, nggak rugi apa-apa. Nambah teman, saudara. Harapannya nambah rezeki,’’ ucapnya.

Singkat cerita, Gus Al bersama ketiga Agus membahas perkumpulan ini lebih lanjut. Kopi darat pertama di sebuah warung depan Terminal Seloaji. Setelahnya, mereka semakin gencar menjaring anggota yang namanya ada unsur Agus-nya. ‘’Terus disebarkan dari mulut ke mulut hingga mengajak saudara dan teman. Sampai berkumpullah belasan,’’ paparnya.

Kini, AABI DAC Ponorogo telah memiliki 94  anggota. Termuda 18 tahun, tertua 65 tahun. Selain menargetkan 100 anggota, mereka juga ingin menggaet Sekretaris Daerah Ponorogo Agus Pramono. Belakangan, Gus Pecel membuka kesempatan makan gratis bagi mereka yang bernama Agus di warung pecelnya. Dengan menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP). ‘’Sejak dibuka 1 Agustus sampai sekarang sudah terkumpul 50 persen,’’ bebernya.

Sejauh ini AABI DAC Ponorogo telah menerima tamu dari berbagai daerah. Dari Trenggalek, Malang, hingga Jawa Barat dan Bali. Perkumpulan ini pun memiliki hierarki organisasi hingga pusat. Di atas DAC, ada DAD (Dewan Agus Daerah) dan DAP (Dewan Agus  Pusat) yang masing-masingnya memiliki struktur organisasi. ‘’Kami yang di Ponorogo ini sudah membentuk kepengurusan dan sudah mengajukan kartu tanda anggota (KTA). Kemudian dimintai KTP dan didaftarkan secara hukum. Di Jabar sudah punya hukum, kita baru kemarin,’’ akunya.

Sesuai arahan dari DAP, setiap DAC diminta menunjukkan kekhasan lokal daerahnya masing-masing. AABI DAC Ponorogo melengkapi atribut member-nya dengan kaus bergambar warok. Juga, mendesain logo AABI DAC Ponorogo. Bagian belakang penadon yang dikenakan juga dilengkapi tulisan AABI DAC Ponorogo. Kaus hitam juga mencantumkan logo.  ‘’Ya, membawa kearifan lokal masing-masing,’’ imbuhnya.

AABI DAC Ponorogo pun kerap menggelar kegiatan sosial. Seperti memberikan santunan kepada yatim piatu. Sampai bahu-membahu menggalang donasi untuk korban bencana longsor di Pulung, April 2017 lalu. ‘’Setiap Ramadan, kami pun bukber,’’ pungkasnya. ***(fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here