Dagangan Diserbu Siswa Baru, Pedagang Buku Rela Bermalam di Lapak

25
MUSIMAN: Pedagang musiman rela berpanas ria demi menggaet pelanggan di tahun pelajaran baru.

Tahun pelajaran baru, sekolah menjadi ladang rezeki pedagang buku musiman. Mereka yang setiap tahunnya menggelar lapak dadakan di Jalan Jenderal Sudirman tak pernah ditinggalkan pelanggan.

————————

NUR WACHID, Ponorogo

SEJAK liburan panjang, muncul banyak pedagang buku musiman di Jalan Jenderal Sudirman. Banyak orang tua berburu kebutuhan sekolah di kawasan pecinan tersebut. Mulai pensil, bolpoin, penggaris, hingga buku tulis. Model transaksi seperti ini terus berulang setiap menjelang tahun pelajaran baru. ‘’Harganya bervariasi,’’ kata Joni Rozak, warga Pakunden.

Selain berjualan musiman di Jalan Jenderal Sudirman, pria 23 tahun itu juga membuka toko alat tulis di rumahnya. Dia melanjutkan usaha warisan orang tuanya sejak lulus SMA. ‘’Sudah punya pelanggan,’’ ujarnya.

Sejak Lebaran lalu, Joni mulai membuka lapak sepanjang enam meter itu. Stok puluhan karton berisi buku dia letakkan di rumah-rumahan belakang lapak. Itu juga digunakannya untuk istirahat. Sejak pagi standby melayani pembeli. Tidak jarang pula harus bermalam di lapak untuk menjaga dagangannya. Panas dingin cuaca tak dihiraukannya. ‘’Mulai ramai ya akhir-akhir ini, ketika sudah mendekati masuk sekolah,’’ tuturnya.

Saat ramai, dia sanggup menjual 20-30 pak buku dalam sehari. Satu pak buku tulis paling murah berisikan 32 halaman itu dijualnya Rp 23 ribu. Paling mahal setebal 64 halaman dijualnya Rp 65 ribu. ‘’Harga kertas tiap tahun naik,’’ sebutnya.

Meski mengalami sedikit kenaikan harga, buku tulis tetap dibutuhkan. Dalam sekali musim, Joni dapat menjual hingga 20 karton. Itu belum termasuk buku tulis yang dijual di rumahnya. Para pembeli biasanya membelikan anaknya buku tulis dalam jumlah besar. Untuk mencukupi keperluan satu tahun ajaran. ‘’Paling laris, buku yang tiga puluh ribuan,’’ katanya.

Kenaikan harga yang tidak seberapa tak dirisaukan orang tua. Lantaran menjadi kebutuhan pokok untuk sekolah anak. Deni Kurniawan, warga Kelurahan Purbosuman, tidak tahu persis tentang kenaikan harga buku tulis. ‘’Biasanya ya memang beli di sini. Sudah langganan,’’ kata pria 30 tahun itu.

Meski harganya naik, dia tak mengurangi jatah tiga pak buku tulis untuk anaknya. ‘’Tiap tahun belinya langsung tiga. Jadi nanti kalau beli lagi pas kenaikan kelas,’’ ucapnya. *** (fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here