Belum Ada Perda, Lahan Pertanian Magetan Terancam

110

MAGETAN – Sektor pertanian menjadi salah satu program prioritas Bupati Magetan Suprawoto. Sayang, hingga kini masih belum ada peraturan daerah (perda) tentang lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Lantas, bagaimana sikap pemkab di tengah meroketnya iklim investasi? ’’Kami sudah membuat naskah akademik raperda tentang LP2B,’’ kata Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Magetan Eddy Suseno.

Menurut Eddy, naskah itu sudah dikirim ke Bagian Hukum Setdakab Magetan sejak tahun lalu. Tahun ini bakal diusulkan ke setwan. Besar kemungkinan tahun ini bakal diadakan pembahasan dengan para legislator. Namun, setelah perda itu diundangkan, belum dapat dilaksanakan sepenuhnya. Butuh waktu dua hingga tiga tahun agar bisa terlaksana. ’’Tidak cukup hanya dengan perda. Harus ada perbup (peraturan bupati, Red),’’ ujarnya.

Merancang perbup itulah, yang diakui Eddy, bakal memakan waktu lama. Sebab, di dalamnya bakal tercantum detail lahan dan pemilik lahan yang masuk dalam LP2B. Waktu yang dibutuhkan tidak cukup hanya setahun. Sebab, pemilik lahan di masing-masing desa harus dikumpulkan semua. ’’Dalam setiap pertemuan, tidak semua pemilik itu akan datang. Ini yang bikin lama,’’ jelasnya.

Dalam pertemuan itu, bakal dipaparkan lahan yang direncanakan masuk dalam peta LP2B. Setiap petani bakal ditanya kesediaannya. Plus minus jika berada di dalam atau di luar peta LP2B bakal disampaikan. Sehingga, para petani bisa menimbangnya. Sebab, program bantuan terhadap lahan yang termasuk dalam LP2B dan tidak, jelas berbeda. ’’Kami tidak bisa memaksa lahan petani itu harus masuk dalam LP2B. Harus sama-sama sepakat,’’ terangnya.

Menurut Eddy, tak ada kriteria lahan yang akan masuk dalam LP2B. Termasuk dari tingkat kesuburan. Sebab, tidak ada indikator pastinya. Jika dipaksakan, akan butuh waktu lebih lama lagi. Itu lantaran tanah yang subur untuk ditanami padi, belum tentu subur jika ditanami tanaman lain. ‘’Patokan untuk menentukan LP2B hanya mendasar pada petak,’’ jelasnya.

Saat ini, pihaknya juga sudah menyelesaikan pemetaan LP2B. Sejak 2016 lalu, pengukuran dan pendataan lahan pertanian di semua desa sudah dilakukan. Pada 2018 lalu pengukuran dan pendataan itu baru kelar dilaksanakan. Tiga tahun lamanya. Dari total lahan pertanian di Kabupaten Magetan yang mencapai 33 ribu hektare, yang masuk dalam LP2B yakni seluas 19 ribu hektare. ‘’Masih banyak lahan yang bisa dialihfungsikan,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here