Madiun

Begini Pesan Pasien 04 Kota Madiun selepas Sembuh dari Covid-19

Jangan Lupa Bahagia Agar Imunitas Tetap Terjaga

Sudah sembilan hari AR diperbolehkan pulang ke rumahnya di Patihan, Manguharjo. Namun, sejak 22 Juni itu dia masih menahan diri tidak video call putrinya. Jika tahu ibunya sudah di rumah, putri yang masih berusia 8 tahun itu pasti rewel minta dijemput dari rumah neneknya.

ASEP SYAEFUL BACHRI, Jawa Pos Radar Madiun

LEGA dan bahagia. Kesan itu yang terasa saat AR bercerita kepada koran ini melalui saluran telepon. Dia masih terbayang, betapa gembiranya ketika mendengar pengumuman lewat pengeras suara dari kamar isolasi RSUD dr Soedono Madiun. Hari Senin itu, dia dinyatakan sembuh Covid-19 setelah sebelumnya dua kali swab test pada 19 dan 22 Juni menunjukkan hasil negatif. ‘’Ini sebuah keajaiban. Saya bisa keluar dan melihat langit kembali setelah hampir satu bulan diisolasi,’’ ucapnya.

Mulanya, AR terkonfirmasi positif Covid-19 pada 25 Mei. Selama isolasi 27 hari, dia melewati tujuh kali tes swab hingga akhirnya dinyatakan negatif Covid-19. Kini, AR masih menjalani isolasi mandiri 14 hari di rumahnya. Kondisinya semakin hari semakin membaik. Udara segar dan kebebasan melihat dunia luar membantunya pulih dengan cepat. ‘’Sekarang tugas saya setiap hari menyemangati suami yang masih diisolasi. Semangat ini penting  agar imunnya membaik dan cepat sembuh,’’ ujar perempuan 38 tahun itu.

Hingga Rabu (1/7) AR sudah menjalani isolasi mandiri sembilan hari. Semua kebutuhan harian dipenuhi mertuanya. Pun, tak sedikit tetangga yang menawarkan diri untuk membelikan apa saja yang menjadi kebutuhan selama menjalani isolasi mandiri. Semua terpenuhi, kecuali bertemu dengan buah hati. Dia sengaja tak mengabarkan jika sudah pulang ke rumah. ‘’HP (handphone, Red) Mama rusak,’’ itulah kata-kata yang selalu diucapkan saat anaknya bertanya kenapa tidak pernah video call.

AR mulai menitipkan kedua anaknya ke rumah ibunya sejak merasa tidak enak badan sepulang kerja 23 Mei lalu. Keputusan itu dia ambil setelah googling terkait gejala yang dirasakannya hampir sama dengan Covid-19. Tiga hari sebelum terkonfirmasi positif, dia hanya tinggal berdua dengan suami di rumahnya. Saat itu kepalanya pusing, mual, lemas, dan tak punya nafsu makan. Kondisi itu semakin parah dan membuatnya harus dirawat di UGD RSUD Soedono. ‘’Sore itu saat dicek status saya masih PDP karena kebetulan suami habis pergi dari Surabaya. Setelah di-swab dan dinyatakan positif, malamnya lalu dipindah ke ruang isolasi,” kenangnya.

Suaminya dinyatakan positif seminggu setelahnya. Sedangkan keluarga lain yang juga di-rapid test hasilnya negatif. Suaminya yang diduga carrier termasuk orang tanpa gejala (OTG). Hanya indra penciumannya yang hilang, namun badannya tetap sehat. Setelah dinyatakan positif Covid-19, AR sempat down. Karena tidak menyangka bakal terinfeksi virus yang melanda di semua belahan dunia itu. Apalagi saat menjalani perawatan dia satu-satunya perempuan yang diisolasi. Perasaan nelangsa berangsur sirna begitu mendengar kisah-kisah kesembuhan pasien Covid-19. ‘’Saya mulai berkeyakinan semua pasien Covid-19 bisa sembuh dan terus menyugesti diri tidak ada yang meninggal dunia. Itu saja yang terus saya pikirkan. Saya juga tidak pernah menyimak berita negatif yang bisa membuat mental saya drop,” terangnya.

AR tidak memungkiri sedikit trauma setelah dinyatakan positif terkena korona. Penyakit Covid-19 yang menular sangat cepat, membuat penyitasnya harus diisolasi agar tidak menular kepada orang lain. Tidak boleh keluar selama hampir sebulan. Sendirian dan tak bisa dijenguk oleh keluarga. Setiap hari hanya melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang. Menjadi salah satu pengalaman mengerikan sepanjang hidupnya. ‘’Setiap pagi sarapan diantar. Setelah itu diperiksa, lalu minum obat, dan setelah itu nonton televisi atau istirahat. Setiap hari seperti itu,’’ ceritanya.

Untuk melawan kejenuhan, AR biasa menghibur diri dengan mendengarkan musik atau ceramah. Itu bisa membuatnya sering tertawa. Jika sudah sore, biasanya dia mendekati jendela kamar untuk bisa mendapat sedikit sinar matahari dan melihat dunia luar. ”Tapi, itu hanya sekitar dua minggu. Dua minggu setelahnya, saya dipindahkan ke lantai satu. Di sana tidak bisa melihat apa-apa selain apa yang di dalam kamar,” ungkapnya.

Pengalaman yang tidak enak akibat terinfeksi Covid-19 itu membuatnya miris saat melihat masyarakat yang sampai kini tetap santai kongko di luar rumah. Kerumunan seperti itu menjadi teror yang sesungguhnya. Dia miris banyak orang meremehkan virus korona. ‘’Walaupun sudah sembuh, saya masih trauma. Kalau bisa jangan bergerombol dulu. Isolasi itu benar-benar bikin stres. Tetap jaga jarak dan patuhi protokol kesehatan. Jangan lupa bahagia agar imunitas tetap terjaga,’’ pesannya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close