Begini Nuansa Imlek di Perum Pusparaya Regency Mangkujayan

88

PONOROGO – Suasana akrab di tengah perbedaan terlihat dalam perayaan tahun baru Imlek. Ratusan lampion berwarna merah terpasang di sepanjang jalan Perum Pusparaya Regency, Mangkujayan, Ponorogo, Minggu malam (4/2).

Di sepanjang jalan itu pula warga membaur. Tidak pandang etnis, suku, ras, dan agama. Kebanyakan mengenakan kaus berwarna merah yang menjadi ciri khas Tionghoa. Bergambar babi tanah yang menjadi lambang tahun baru kali ini. Di sepanjang jalan itu pula mereka tampak bercengkerama dengan damai. Terlihat puluhan gerobak makanan penjual keliling didatangkan.

Berbagai makanan disajikan untuk siapa saja yang datang. Tidak hanya warga perumahan atau etnis Tionghoa yang menjadi minoritas di lingkungan tersebut. Namun, warga luar perumahan turut menikmati hidangan yang disajikan. ‘’Tiap tahun kami selalu mengajak seluruh warga merayakan bersama,’’ kata Sulistyono Susanto, koordinator acara.

Warga tampak menikmati aneka makanan yang disajikan prasmanan. Mulai bakso, gulai kambing, soto, hingga makanan khas angkringan. Yang paling menarik perhatian, usai menikmati hidangan, mereka mengambil kopi di gerobak angkringan yang dipajang melintang di jalan tersebut. Tradisi ngopi untuk kebersamaan itu pula yang menjadi lambang etnis Tionghoa pada perayaan tahun baru Imlek. Uniknya lagi, persiapan acara tersebut dilakukan warga lintas-etnis secara bersama-sama. Mulai pemasangan lampion hingga menghias jalan dengan berbagai ornamen berwarna merah. Rupanya kebersamaan itu juga dilakukan saat perayaan hari besar lainnya. ‘’Seperti Natal, tahun baru, Grebeg Suro, Idul Adha, Idul Fitri, juga kami rayakan seperti ini. Sesuai dengan ciri khas masing-masing,’’ ujarnya.

Usai warga muslim menunaikan jamaah salat Isya di masjid yang terletak di ujung jalan, genderang tambur bertalu. Sembilan barongsai dengan aneka warna langsung berloncatan. Diiringi kembang api yang membuat langit malam itu tampak berwarna. ‘’Artinya, perbedaan ini kami lebur, yang ada kebersamaan,’’ tuturnya.

Dengan atraksi memukau, barongsai mampu menghibur warga. Apalagi boneka berbentuk singa dengan tubuh bersisik layaknya naga itu naik ke kursi yang ditata sedemikian rupa. Barongsai yang digerakkan dua orang itu bergerak dinamis di atas kursi yang hanya cukup dibuat berdiri satu orang tersebut. ‘’Barongsai memang menjadi ciri khas perayaan tahun baru Imlek. Selain untuk hiburan, barongsai juga diyakini mampu mengusir roh jahat di momen tahun baru ini,’’ sambung Sulistyono.

Saryudi, seusai jamaah salat Isya di masjid, terlihat menikmati momentum kebersamaan tersebut. Dia yang masih mengenakan peci dan sarung serta baju koko itu membaur akrab dengan warga lain. ‘’Meski berbeda keyakinan, kita tetap ikut merayakan tahun baru Imlek. Karena saat perayaan hari besar di agama kami, mereka (etnis Tionghoa, Red) juga turut merayakan,’’ kata Saryudi.

Perayaan tersebut menjadi simbol kebersamaan. Selain itu, untuk mempererat tali persaudaraan untuk warga. ‘’Sehingga momen seperti inilah yang kami tunggu dan nanti-nantikan. Tidak hanya saya, tapi warga lain yang ada di sini juga merasakan hal serupa,’’ ucapnya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here