Begini Modus Komplotan Sukaji Gasak Motor

140

PONOROGO – Sembari berjalan terpincang-pincang, Sukaji menjawab cecaran pertanyaan awak media di Mapolres Ponorogo. Betis kirinya berlubang akibat timah panas petugas. Itu lantaran pria asal Purwodadi, Pasuruan, tersebut melawan saat akan ditangkap. Sukaji adalah pentolan sindikat curanmor yang malang melintang di Ponorogo.

Sedikitnya dia sudah beraksi di lima TKP. Salah satunya di Desa Maron, Kauman. Rekan-rekan sekomplotannya menyebut Sukaji otak pelaku semua aksi curanmor tersebut. Dia pun berperan sebagai eksekutor. Termasuk menghubungkan dengan penadah sepeda motor hasil pencurian di Surabaya.

Sukaji punya jam terbang tinggi sebagai penggasak sepeda motor orang. Wakapolres Ponorogo Kompol Muhammad Roni Mustofa pun terheran-heran saat meminta Sukaji mempraktikkan aksinya. Sejumlah peralatan, termasuk kunci T dan kunci magnet untuk motor matik, jadi senjatanya. Dia juga membekali diri dengan jimat. ‘’Hanya butuh waktu tiga detik,’’ kata Sukaji.

Roni menjelaskan komplotan ini beraksi secara terstruktur dan terencana. Dimulai dari mobile mencari sepeda motor sasaran menggunakan dua unit mobil. Begitu mendapat incaran, sebagian pelaku turun dari mobil. Ada yang bertugas mengawasi dan memastikan situasi aman. ‘’Selanjutnya, sepeda motor dibawa pelaku menuju mobil,’’ ungkapnya.

Di dalam mobil tersebut, mereka sudah menyiapkan segala sarana untuk mengelabui petugas dan warga. Seperti mengganti pelat nomor sepeda motor dengan pelat palsu. Mayoritas berpelat nomor Malang (N) dan Bojonegoro (S). ‘’Mereka juga menyiapkan helm di dalam mobil itu untuk dipakai saat mengendarai sepeda motor hasil curian ke lokasi persembunyian,’’ bebernya.

Sindikat ini juga dikenal berbahaya. Mereka tidak segan-segan melukai korban jika melawan. Itu diperkuat dengan temuan sejumlah senjata tajam (sajam) seperti celurit dan belati di lokasi penggerebekan Desa Ngelo, Jatiroto, Wonogiri. ‘’Modus operandinya, mereka mobile dengan dua unit mobil. Satu mobil masing-masing berisi sekitar 5–6 orang,’’ terang Roni.

Sepeda motor hasil curian tersebut lantas dijual ke penadah di Surabaya. Hanya, jaringan penadah itu serampangan. Motor curian asal dijual kepada orang yang tidak dikenal. Barang bukti sepeda motor Honda Scoopy, misalnya, ditemukan petugas di rumah Seneri. Nopolnya sudah diubah. Mereka biasa mengambil nopol bekas. ‘’Untuk mengelabui petugas, pelaku menggunakan pelat nomor palsu,’’ bebernya. (her/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here