MejayanPeristiwa

Begini Langkah DLH Sikapi Pencemaran Limbah RAB

MADIUN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Madiun bereaksi atas dugaan pencemaran limbah PG Redjo Agung Baru (RAB). Sampel air kehitaman dan beraroma busuk dari sungai di Gunungsari, Madiun, itu diambil Senin (30/7). ‘’Kami uji laboratoriumkan ke Magetan. Hasilnya keluar satu-dua minggu lagi,’’ kata Kabid Pengawasan DLH Kabupaten Madiun Sunaryo.

Tak sekadar mengambil sampel, tim yang terdiri empat petugas itu juga meneliti tingkat keasaman dan kandungan air menggunakan alat pH-meter dan termometer. Dari sana, tim mengetahui bila suhu panas air saat keluar dari pabrik sekitar 38 derajat Celsius. Dari suhu yang melebihi batas normal rentang 25—30 derajat Celsius itulah diduga asal muasal bau tak sedap yang menyeruak selama ini. Sedangkan air menghitam karena bercampur endapan abu. ‘’Ini baru kesimpulan sementara,’’ ujarnya.

Pengecekan dan penelitian DLH kemarin belum bisa dijadikan acuan. Selain karena harus menunggu hasil pasti uji laboratorium, lembaga itu perlu menyandingkan dengan hasil pengawasan DLH Kota Madiun. Di sisi lain, OPD tetangga mengklaim bila pengolahan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) pabrik sudah memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. ‘’Nanti, setelah hasil lab keluar, kami akan rapat membahas sudah standar baku mutu tidaknya IPAL pabrik,’’ urainya kepada Radar Mejayan.

DLH juga perlu meminta keterangan dari sejumlah warga untuk berita acara. Ada dua suara warga menyikapi limbah yang mengalir ke sungai di desanya. Ada yang mendukung karena irigasi pertanian padi terbantukan. Juga, bisa mengolah endapan limbahnya menjadi pupuk. Tapi, ada yang menolak karena tak nyaman terpapar aroma menyengat tersebut. Apalagi mereka tidak bisa mengambil keuntungan lantaran tidak memiliki lahan sawah. ‘’Persoalan limbah ini menjadi dilema,’’ katanya.

Persoalan limbah, tegas Sunaryo, harus dicarikan solusi. Ketika ada yang memperoleh manfaat, warga terdampak bau busuk harus terbebas. Sehingga tidak akan ada yang dirugikan sekalipun tidak bisa memperoleh manfaatnya. Pihaknya bakal menelusuri dan memastikan titik mana saja yang terpapar. Sebab, infonya beberapa wilayah tersengat aroma busuk hanya pada jam tertentu. ‘’Perlu pembahasan bersama-sama,’’ ujar Sunaryo.

Sunaryo mengakui aroma busuk itu juga menyiksa pengguna jalan yang melintas di Jalan Raya Surabaya-Madiun masuk Desa Gunungsari. Dia kerap mencium bau itu sekalipun jendela mobilnya tertutup. Kondisi itu bisa menjadi citra buruk kabupaten ini di mata masyarakat luar daerah yang kebetulan lewat. ‘’Sekalipun kondisi ini ditengarai terjadi hanya ketika pabrik sedang buka giling (berproduksi, Red),’’ urainya.

Sebelumnya, PG RAB mengklaim pembuangan limbah produksi tidak disalurkan ke arah utara. Namun, menuju kawasan Balerejo, Madiun, lewat Kelurahan Tawangrejo, Kartoharjo, Kota Madiun. Limbah yang dibuang juga tidak terlalu berbau lantaran sudah digelontor air. Pun, IPAL sudah sesuai standar baku mutu hingga memperoleh sertifikat proper biru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (cor/c1/fin)

 

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close