Begini Keluh Kesah GTT Nonkategori di Ponorogo

91

PONOROGO – Siswa SDN 1 Mangkujayan terlihat antusias menyimak penjelasan Lucky Kusuma Wardhani. Kemarin siang (13/2) GTT nonkategori itu mengajar bahasa Inggris kelas III. Meski statusnya tidak tetap, peran Lucky vital. Dia dipercaya menjadi guru kelas III di sekolah negeri itu. Entah bagaimana jika tak ada dia. ‘’Saya belum K-2,’’ kata Lucky kepada Radar Ponorogo.

Dia lantas menceritakan keluh kesah menjadi GTT. Dia yang mengajar sejak 2017 itu merupakan lulusan pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) di Universitas Terbuka (UT). Harapan menjadi pegawai pemerintah pupus karena pendidik 25 tahun itu tak berstatus K-2. ‘’Untuk seleksi PPPK kali ini, hanya K-2 yang boleh mengikuti,’’ ujarnya.

Selama ini, lanjut Lucky, dia mengaku dibayar dari SDN. Lucky enggan menyebut berapa angka pasti take home pay-nya. Meskipun ingin mendapat pengakuan dan status yang lebih baik dari pemerintah, Lucky tak ingin menjadi bagian dari PPPK. Sebab, kata dia, PPPK justru lebih memberatkan. Dia menekankan sejumlah aturan. Misalnya, kontrak yang harus diperbarui setiap tahun. ‘’Jadi, setiap tahun harus seleksi lagi. Kalau tidak diterima ya sudah, tidak diperpanjang lagi,’’ tuturnya.

Bulan ini, rekrutmen PPPK digelar. Pemkab mendapat kuota 295 tenaga. Sebanyak 195 lowongan diperuntukkan guru yang sudah berstatus K-2. Di samping 23 lowongan bagi tenaga kesehatan di RSUD dan puskesmas, serta 77 tenaga penyuluh pertanian. Kuotanya masih terpaut jauh dari 2.073 GTT di Bumi Reyog.

Aris Andrianto, GTT nonkategori lain di SDN 1 Mangkujayan, sependapat dengan Lucky. Dia pun menilai rekrutmen PPPK tak mengentaskan persoalan sesungguhnya. Banyak aturan main yang tak mengakomodasi nasib GTT nonkategori. ‘’Kami sudah melangkah ke DPRD, juga melalui PGRI. Semoga ada tindak lanjut,’’ harapnya. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here