Begini Kata Direktur Eksekutif CPCS soal Pemilih Milenial

29

MADIUN – Hingga H-1 coblosan Pemilu 2019 generasi pemilih milenial belum juga menentukan pilihannya. Itu adalah bagian dari karakter generasi Z yang susah diprediksi. Mereka termasuk swing voter (pemilih mengambang) yang cenderung akan memilih pada detik-detik terakhir. ‘’Karakter mereka ceplas-ceplos, ada apadanya suka hal yang baru dan berontak dalam arti positif. Sebab, mereka nggak mau ikut mainstream,’’ kata Direktur Eksekutif Center for Political Communication Studies (CPCS) Tri Okta Sulfa Kimiawan, Senin (15/4).

Okta mencontohkan dalam sebuah keluarga secara terbuka memilih partai A. Belum tentu anak generasi milenial  (17-35 tahun) juga mengikuti pilihan orang tua mereka. Sebab, mereka kritis dan akan memilih calon presiden  (capres) maupun calon legislatif (caleg) sesuai keyakinan masing-masing. ‘’Mereka mood-mood-an belum tentu mengikuti sesuatu yang umum di lingkungan sosial mereka,’’ ujarnya.

Kendati demikian,  hasil analisa lembaga survei yang berbasis di Jakarta ini menemukan hal menarik. Debat pamungkas capres-cawapres Sabtu lalu (14/4) berampak signifikan bagi pemilh milenial untuk memantapkan pilihan mereka.  ‘’Sebelumnya 20-30 persen pada kampanye terakhir turun jadi 15 persen. Artinya tingga  15 persen yang masih mengambang dan bingung. Kasus seperti ini di Madiun juga sama karena pemilih milenial di Indonesia berpotensi mendongkrak arah politik,’’ paparnya.

Dari hasil wawancara, milenial kebingungan menentukan saking banyaknya caleg. Asupan informasi tentang caleg dianggap kurang. Ini sebagai dampak dari pelaksanaan pemilu serempak. ‘’Parpol cenderung sibuk untuk pilpres dibanding pileg. Beda dengan pemilu sebelumnya yang terpisah. Sehingga, parpol masih ada waktu pendidikan politik untuk caleg,’’ jelasnya.

Jika pendidikan politik untuk milenial kurang, seharusnya KPU lebih bergerak aktif memberi pendidikan politik untuk milenial. Sebab, hoax yang bertebaran di media sosial adalah ancaman serius untuk pemilih milineal. Jangan sampai mereka tersesat dan terjerumus hoax. ‘’Untuk menangkalnya, kominfo daerah harus akti menyensor  hoax atau bukan,  melalui pendidikan jurnalistik dan lainnya,’’  ujarnya.

Fars Akbar,  pelajar 18 tahun, warga Taman, Kota Madiun, sudah mantap dengan pilihan capres sepekan jelang pilpres. Itu setelah mengamati berbagai informasi di media sosial terutama instagram dan youtube. Sementara untuk calon legislatif dia bingung. Dari  ratusan caleg DPRD Kota Madiun dia mengambil lima nama. Dia menyebut satu nama partai baru cukup gencar kampanye dengan cara-cara milenial. ‘’Tapi pas lihat orangnya langsung kok kurang meyakinkan ke masyarakat. Kalau DPR RI ada lah satu orangnya berpengalaman. Udah itu aja, yang lain nggak tahu nyoblos apa enggak,’’ pungkasnya. (dil/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here