Litera

Becak Tua

Cerpen: Stefani Mega Febrianti

   JAM dinding di pojok ruangan itu menunjukkan pukul 3 sore. Kembali kuperhatikan jalanan yg ramai di depan toko Bapakku. Motor dan mobil berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing.

    Tak sampai 5 detik pun akhirnya yg kutunggu-tunggu tiba juga. Nampak seorang lelaki tua mengayuh becak tuanya tanpa penumpang menuju kemari. Ia hentikan becak tua itu di depan tokoku bagian kanan. Lalu ia turun dan segera merebahkan tubuhnya di kursi kayu panjang yg sengaja disediakan Bapak bagi siapa saja yang ingin beristirahat.

    Sudah 3 hari ini bapak tua tukang becak itu berhenti di depan tokoku. Hanya untuk sekedar melepas penat. Tidak lama. Hanya setengah jam saja. Lantas ketika jam dinding di pojok ruangan itu menunjukkan pukul setengah 4, ia bergegas pergi. Mengayuh becak tuanya yang sudah usang. Mungkin becak itu jugalah saksi perjalanannya.

    Namun selama 3 hari jugalah aku tak pernah menghampirinya. Hanya memperhatikan dari tempat dudukku. Aku perhatikan, dia selalu kemari akhir-akhir ini pada pukul 3 sore. Makanya, selepas pulang kuliah, aku langsung bergegas menuju toko furniture bapak. Daripada diam di rumah, pergi ke toko lebih baik pikirku.

      Rasa penasaran dalam hatiku muncul. Semakin besar. Kali ini aku ingin mencoba menghampirinya. Menyapanya barangkali. Tak pikir panjang, kakiku melangkah menuju kursi kayu yg direbahi tubuhnya yg kurus dan renta itu. Melihatku berdiri di sampingnya, sontak ia bangun dari posisinya yang meringkuk. Mata tua itu menatapku. Tatapannya mengandung keramahtamahan. Senyumnya mengembang seketika, nampak jelas keriput di garis bibirnya.

     Kuulurkan tanganku dan lelaki dihadapanku ini menjabat tanganku. Kencang sekali seakan tak ingin dilepaskannya. Beberapa detik kemudian dilepaskannya jabatan tangan itu dan tatapannya seakan memberi perintah supaya aku duduk disampingnya.

      “Nak.. kerja di sini atau yang punya toko?” Tanyanya kemudian.

       “Saya anaknya yang punya toko pak.”

       “Oh.. namanya siapa nak?”

       “Saya Andi, pak. Bapak siapa namanya?”

       “Oh nak Andi.. panggil saja saya Pak Dar.” Oh jadi nama bapak tua ini Pak Dar. Pak Dar begitu ramah dan ternyata juga cukup humoris. Baru perkenalan saja kami sudah terlibat dalam obrolan panjang. Hingga tiba pukul setengah 4, ia pamit untuk segera pergi. Entah kemana perginya aku tak bertanya. Mungkin saja pulang ke rumah atau bisa jadi mencari penumpang lagi.

      Akhirnya aku tahu, dia hidup sebatang kara dalam kesepian. Istri yang amat dicintainya telah meninggalkan dia seorang diri untuk selamanya. Kepergian istrinya sejak 2 tahun silam menjadikan ia seorang yg dalam kesunyian dan kesepian yang mendera. Aku terka, usianya mungkin sekitar 60 an lebih. Atau malah mendekati 70 an. Entahlah. Aku tak tahu pastinya. Dan yang jelas tadi pun aku tak sempat bertanya demikian.

      Esoknya lagi, seperti biasa, dia menghentikan becaknya di depan tokoku. Senyumnya selalu mengembang memperjelas keriput di garis bibirnya. Di bibirnya tak tergambar kesedihan yang ia alami. Tapi tatapan matanya tak bisa menyembunyikan itu. Matanya yang layu berusaha ia tutupi dengan senyum manis dan riang tawanya. Akhirnya kuketahui berapa tepat usianya. 57 tahun. Ternyata tak setua yang kuperkirakan.

    Usia bapak tukang becak ini hanya selisih 3 tahun saja dari bapakku. Namun ia sudah nampak lebih tua dari usianya. Mungkin karena banyak beban yang dipikulnya. Ataukah faktor lain yang tak kuketahui.

     Hampir setiap hari ia selalu datang ke tokoku. Kami pun sudah seperti seorang sahabat yang akrab. Banyak yang ia ceritakan padaku. Juga sebanyak itulah yang ia tanyakan padaku. Sudah semacam wartawan saja.

    “Kau belum menikah, nak?” Tanyanya suatu ketika. Aku hanya menggelengkan kepala perlahan mendengar pertanyaan sensitif itu.

     “Usiamu kan sudah 27 tahun nak. Sudah waktunya lho kamu berumah tangga.” Benar juga apa yang dikatakan. Sudah saatnya aku membangun rumah tangga. Tapi pertanyaannya, dengan siapa?

     “Saya masih kuliah pak. Memang dulu setelah lulus SMA saya tidak langsung kuliah. Belum berminat. Masih suka kluyuran tidak jelas. Dan akhirnya menyesal juga. Jadilah saya masuk kuliah sudah terlambat. Dan sekarang saya belum juga lulus S2 pak. Mungkin setelah lulus S2 nanti saya akan mencari seorang wanita.” Jawabku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

      “Lantas kapan lulus S2, nak?”

      “Tidak lama lagi pak.” Kataku seraya kupandangi dirinya yang membuka topi lusuhnya hingga nampak rambutnya yang sudah memutih.

      “Bapak doakan yang terbaik untukmu.” Suaranya mantab ketika ia ucapkan itu. Dan mengena dalam hatiku. Sampai pada otakku, membayangi perasaanku. Apa yang ia katakan seakan dia seorang yang sudah lama sekali ku kenal. Seperti perkataan seorang bapak yang merestui langkah anaknya.

      Sebulan berlalu, kami sudah bagai bapak dan seorang anak. Tawa riangnya selalu kurindukan. Cerita-cerita masa mudanya kunantikan. Ia tidak seperti yang terlihat. Lebih hebat dari apa yang nampak darinya. Dulu sewaktu muda dia seorang pebisnis. Banyak usaha yang pernah ia jalani. Hidup enak dan berkecukupan. Namun kebangkrutan melandanya. Sebenarnya bisa saja kebangkrutannya diselamatkan kembali. Hanya saja waktu itu suatu masalah muncul. Terjadi kecelakaan dengan pengendara motor ketika Pak Dar mengendarai motornya. Bukan dia yang menabrak. Pak Dar sudah sangat berhati-hati mengendarai motornya. Tapi suatu musibah tak bisa disangka sebelumnya. Orang yang bertabrakan dengannya itu meninggal di tempat. Dan keluarga dari pihak orang itu menuntut dirinya.

      Kebangkrutan yang belum sempat terselamatkan itu semakin menjadi. Sebagian hartanya digunakan untuk menyewa pengacara. Alhasil setelah 1 tahun mendekam di balik jeruji ia dibebaskan karena terbukti tak bersalah. Kecelakaan itu bukan atas keteledorannya. selama di penjara itu jugalah anak yang dikandung istrinya telah lahir. Anak itu berusia 4 bulan ketika menyambut kepulangan ayahnya dari balik penjara.

      Aku tak tahu bagaimana jadinya ia sekarang menjadi tukang becak. Juga di manakah anak tersebut hingga sekarang dia hanya seorang diri. Aku tak menanyakan lebih lanjut. Dan aku tak mau mencampurinya lebih dalam. Mungkin beberapa hal terjadi setelah itu. Mungkin.

       “Bapak, apakah bapak mau bekerja di toko saya? Supaya tak perlu mengayuh becak lagi.” Tawarku padanya setelah 3 minggu sejak perkenalan kami.

       “Orang tua begini mau kerja apa lagi nak?” Jawabnya kemudian terkekeh.

       “Bapak bisa menyapu, mengepel, pokoknya membersihkan toko, pak.” Rasa iba yang hinggap di hatiku membuatku menawarkan sebuah pekerjaan padanya.

       “Tidak nak.. bapak sudah senang begini.” Jawabnya takzim.

       “Bapak kalau mengayuh becak terus tentu kelelahan bukan?” Aku memaksa. Menuntut alasan mengapa ia menolak tawaranku. Padahal di tokoku banyak surat lamaran dari orang-orang yang ingin bekerja di toko. Ini tawaran spesial untuk orang di hadapanku bernama Pak Dar. Seorang tukang becak yang belakangan ini menjadi teman santaiku di toko. Dia orang yang menyenangkan bagiku.

      “Mengapa mesti lelah. Bapak jadi tukang becak di sini baru 2 tahun terakhir, nak. Sebelumnya kan bapak tidak tinggal di kota ini. Lama bapak tinggal di kota yang jauh di seberang laut sana. Ketika istri bapak meninggal bapak memutuskan untuk pergi pulang ke kampung halaman bapak di sini.” Jelasnya.

        “Mengapa bapak mesti pulang ke kota ini pak? Bukankah tak ada famili di sini? Mau cari siapa lagi, pak?” Tanyaku dengan rasa penasaran. Tak terpikirkan olehku apakah patut aku bertanya demikian.

        “Iya. Tak ada lagi kerabat di sini.” Ia menghela nafas panjang.

        “Itulah yang bapak sesalkan, kenapa dari dulu bapak tidak pernah pulang kampung.” Lanjutnya. Ia pejamkan matanya. Melukiskan sesalnya dalam hati.

        “Menjadi tukang becak setelah pindah kemari, menyusuri jalanan di kota ini, sembari bernostalgia akan kenangan yang telah berlalu. Kota ini setiap sudutnya penuh kenangan untuk orang tua ini, nak.”

     Tanpa kutanyakan, aku mendapat jawabannya mengapa ia bisa menjadi tukang becak sekarang. Dapat ku simpulkan, dia menjadi tukang becak atas pilihannya sendiri. Bukan hanya sekedar mencari nafkah bagi dirinya. Namun lebih dari itu. Dia ingin menikmati sisa hidupnya di atas becak tua itu sambil menyusuri kota yang penuh kenangan baginya. Dan tak pernah kutanyakan di manakah anaknya itu. Mungkin meninggal juga. Mungkin.

      Hingga suatu hari ketika aku di toko, bapak juga ikut di toko. Lantaran akan ada barang baru yang datang ia harus memeriksanya sendiri. Pukul 3 sore. Bapak tukang becak itu sebentar lagi pastilah datang. Aku berencana mengenalkannya pada bapakku. Dengan usianya yang 3 tahun lebih tua dari bapak, mereka bisa menjadi teman ngobrol yang asyik kiraku.

       Yang kutunggu akhirnya tiba juga. Ia turun dari becaknya dan seperti biasa duduk di kursi kayu panjang itu. Melepas topi birunya yang kusut dihinggapi debu jalanan. Aku mengajak bapak untuk menghampiri lelaki tua itu. Bapak melangkah menuju kursi kayu panjang depan toko. Aku mengikuti dari belakang. Dan kudapati Pak Dar sedang duduk menunduk manatap ujung kakinya.

       “Pak..” bapak menyapanya dan ia angkat pandangnya pada bapakku. Tiba-tiba kulihat bapak seperti seorang yang tengah terkejut. Bukan main, bapak langsung memeluk tubuh kurus kering Pak Dar. Selang 5 detik Pak Dar membalas pelukan itu. Pelukan yang nampak erat sekali. Bagai sahabat yang sudah lama tak bersua.

      Aku di sini berdiri mematung tak tahu apa yang tak mengerti maksud semua ini. Mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.

     “Mas Darman.. sudah lama aku mencarimu kemana-mana. Tapi tak pernah kutemukan dirimu. Hari ini rasanya seperti mimpi kau ada dihadapanku.” Bapak masih memeluk tubuh renta Pak Dar. Sambil sesenggukan, air matanya tak mamou ia bendung. Tumpah begitu saja.

     Mereka lepaskan pelukan itu dan mereka memandangiku yang nampak kebingungan. Aku hanya diam. Tapi diamku menerjemahkan rasa ingin tahuku.

     “Andi.. bapak dan Mas Darman ini adalah sahabat dekat. Ia dulunya juga seorang wirausaha seperti bapak.” Bapak akhirnya bicara padaku. Ya, aku sudah tahu itu dari cerita Pak Dar beberapa waktu lalu. Bapak meneruskan..

     “Dia sudah bapak anggap seperti seorang kakak. Dia bangkrut dan mendekam di penjara. Hartanya habis krn istrinya tak bisa berbuat apa-apa lantaran tengah mengandung anak yang dinanti-nantikannya. Bapak ingin membantunya untuk bangkit kembali. Tapi dia adalah seorang kakak yang baik. Sangat baik. Istri bapak, ibumu sendiri, kata dokter ia tak bisa mempunyai anak karena masalah rahimya.” Ia hentikan kalimatnya. Menyeka air mata di pipinya. Aku semakin di buatnya penasaran. Apa tadi katanya? Kenapa bisa sampai menyangkut ibu segala? Ibuku tak bisa memiliki anak? Lalu siapa aku? Bagaimana aku bisa hadir di tengah-tengah mereka?

     “Bapak ingin pisah dari ibumu. Tapi Mas Darman tak menghendaki perpisahan itu. Karena perpisahan itu tidak baik katanya. Bapak hanya ingin seorang anak. Untuk menjadi pelengkap hidup bapak. Bapak meminta anak yang ketika itu berumur 4 bulan, dan bapak akan membantu usahanya supaya bangkit lagi. Ia berikan anak itu padaku. Kubawa pulang anak itu. Besoknya bapak datang ke rumah mas Darman. Tapi dia sudah pergi entah kemana. Menghilang seperti di telan bumi. Dan sekarang baru kulihat lagi dirinya setelah 27 tahun menghilang.” Satu tetes air mataku jatuh membasahi pipiku.

     “Anak yang kuminta itu bernama Andi …” Tak lagi kudengarkan kata-kata bapak, aku langsung mendekap tubuh tua Pak Dar. Dia balas memelukku. Erat sekali. Seolah aku dan dia telah lama memendam kerinduan.

      Dia, Pak Dar. Seorang tukang becak yang sebulan terakhir kukenal. Dia bapakku. Bapakku yang menyayangiku dari kejauhan. Yang selalu mendoakan kebaikanku. Aku tahu mengapa ia datang kemari, karena ia merindukan anaknya. Ia merindukanku, anaknya.

Stefani Mega Febrianti

Penggemar buku yang lahir di Madiun 19 tahun silam.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close