Bawaslu Pelototi Data Pemilih Pesantren

100

MAGETAN – Potensi pemilih tidak jelas bermodus pindah pilih mulai dipetakan Bawaslu Magetan. Khususnya di sejumlah pondok pesantren. Status mereka sebagai pendatang rawan disalahgunakan pihak tertentu untuk meraup suara. Selain itu, bawaslu sekaligus ingin memastikan agar mereka bisa menggunakan hak pilih pada pemungutan suara pemilu 17 April 2019 mendatang.

Prosesnya, bawaslu terlibat langsung dalam pengawasan pendataan santri dari tiap-tiap lembaga pondok pesantren (ponpes) oleh KPU Magetan. Kemudian, data tersebut disortir, mana saja yang berusia 17 tahun ke atas dan merupakan warga kabupaten tempat lembaga itu berdiri. ‘’Mereka (santri dari luar daerah, Red) akan dapat surat pindah pilih supaya bisa nyoblos di Magetan,’’ kata Komisioner Bawaslu Magetan Muries Subyantoro kemarin (10/2).

Model pengawasan itu mulai diberlakukan ketika KPU melakukan pendataan di Ponpes Al Fatah Temboro. Terhitung sejak Sabtu lalu (9/2) tercatat ada sekitar 500 santri putri yang telah didata. Sehingga, kurang 2.100 santriwati lagi. Sedangkan, pada ponpes putra tercatat sekitar 7.000 santri.

Kendati demikian, lanjut Muries, fasilitasi itu diberikan hanya kepada mereka yang dapat menunjukkan e-KTP atau surat pengganti e-KTP dan kartu keluarga (KK). Pasalnya, dari pemantauan di lapangan ternyata masih banyak santri yang belum mempunyai bukti fisik dokumen kependudukan tersebut. ‘’Kalau yang tidak bisa menunjukkan e-KTP dan KK, kami minta KPU untuk tidak melayaninya,’’ ujar Muries.

Dia mengatakan pendataan itu harus sudah kelar pada 17 Februari mendatang. Sehingga proses pendataan oleh KPU mesti dikebut. ‘’Sebelumnya memang sudah ada komitmen dari KPU akan melayani (pendataan) sampai malam hari. Kami yakin akan selesai sesuai target,’’ tutur Muries.

Hasil dari pendataan di ponpes, mayoritas santri berasal dari luar daerah. Sehingga, mereka perlu difasilitasi untuk mendapatkan surat pindah pilih. Bahkan, bila perlu disediakan TPS khusus di ponpes tersebut. Karena jumlah calon pemilih hasil pendataan lebih dari 300 orang.

Perlakuan berbeda diberikan kepada santri yang berasal dari daerah Madiun Raya. Pihak ponpes memberikan dispensasi kepada para santri untuk menyalurkan hak pilih mereka di daerah asalnya masing-masing. Untuk itu, proses sortir perlu dilakukan secara cermat. Sekaligus memastikan nama mereka tercantum dalam database pemilih.

Muries mengungkapkan, penyisiran data pemilih di sejumlah ponpes bakal terus dilakukan. Setelah dari Ponpes Al Fatah Temboro, rencananya pendataan dilakukan di Ponpes Turi dan Plumpung.

Dua ponpes itu juga mempunyai santri cukup banyak. Sebagai tindak lanjut, bawaslu bakal berkoordinasi dengan pengurus ponpes agar pendataan calon pemilih pindahan itu bisa dilakukan. ‘’Yang jelas, akan kami komunikasikan dulu untuk pendataan selanjutnya,’’ ucap Muries.

Sebagaimana diketahui, hasil sosialisasi KPU Magetan pada pekan lalu mencatat ada sekitar 17 ribu santri dari luar daerah yang belajar di Ponpes Al Fatah Temboro. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 ribu santri mempunyai hak pilih. (bel/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here