Madiun

Terdampak Bau Busuk Limbah Tapioka, 100 Lebih Warga Terserang ISPA

MADIUN – Bau busuk limbah PT Budi Starch & Sweetener membuat Semi kian menderita. Nenek 65 tahun pengidap kanker paru-paru itu harus menghirup aroma tak sedap sejak dua bulan terakhir. Rumahnya di Dusun Sidowayah, Candimulyo, Dolopo, Kabupaten Madiun, berjarak satu kilometer dari pabrik tepung tapioka itu. ‘’Saya menderita sekali,’’ kata Semi Selasa (16/7).

Setahun lalu Semi didiagnosis dokter menderita penyakit yang ditandai batuk-batuk tiada henti itu. Mengharuskannya rutin kontrol di RS Paru Dungus dalam kurun waktu tertentu. Di tengah masa pengobatan, bau busuk limbah datang tidak kenal waktu menusuk hidung. Hingga membuatnya tidak nafsu makan dan minum. ‘’Selalu pakai masker karena mulai pagi sampai malam baunya nggak hilang-hilang,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Semi menyebut, cucunya Mahlud juga mengeluhkan hal serupa. Bocah kelas V SD itu meracau setiap kali menghirup aroma tak sedap yang belakangan menyeruak imbas robeknya tiga covered lagoon kolam instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) pabrik itu. Pusing, mual, hingga selalu mengeluh ingin muntah. ‘’Rasanya ingin pergi menjauh dari lingkungan rumah biar tidak menghirup bau busuk. Tapi, nggak tahu mau ke mana,’’ keluhnya.

Sati, warga lainnya, mengungkapkan bau busuk limbah kian menyengat selepas magrib hingga tengah malam. Apalagi ketika angin tidak berembus, aroma hasil produksi ketela itu seperti mengendap. Membuat anak-anak gelisah dan tidak bisa tidur. ‘’Kondisi seperti ini berlangsung sebelum puasa (Mei 2019, Red),’’ ujarnya.

Apakah warga Candimulyo itu menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) imbas limbah pabrik tepung? Kepala Puskesmas Bangunsari Widya Wardani menyebut ada 57 warga Candimulyo penderita ISPA bulan lalu. Terdiri 40 pasien usia di atas lima tahun dan 17 pasien balita. Catatan tidak jauh berbeda dengan Desa Dolopo di sebelah barat Candimulyo. Yakni, 46 dewasa dan 15 balita. ‘’Mengacu itu, sepertinya tidak ada kaitan ISPA dengan bau limbah,’’ duganya.

Widya belum bisa memastikan penyakit yang menyerang hidung, sinus, faring, dan laring itu dampak polusi udara limbah pabrik. Sebab, perlu penelitian yang bukan ranah lembaganya. Mengingat gejala ISPA ditandai batuk, pilek, dan sesak napas akibat udara buruk, bakteri, atau virus. ‘’Kami sekadar mengobati,’’ jelasnya.

Widya menambahkan, puluhan pasien Candimulyo yang didiagnosis ISPA tidak pernah mengeluhkan bau limbah ketika diperiksa. Mereka cenderung menyampaikan penyebab yang wajar. Seperti flu akibat minum es atau ketularan teman. Itu biasa terjadi ketika kemarau. Keluhan warga mual dan pusing  dinilai efek akibat menghirup bau busuk. ‘’Kalau bahaya tidaknya, kami harap warga mau berobat agar bisa diperiksa lebih lanjut,’’ tuturnya.

Menyikapi kasus Candimulyo, Widya berjanji segera turun lapangan. Pihaknya bakal bekerja sama dengan pabrik untuk mengecek kondisi warga yang terdampak polusi limbah. ‘’Sementara ini coba kami tangani. Belum ada perintah dari dinas kesehatan,’’ pungkasnya. (cor/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close