Baru 72 Persen PJU di Kota Jenis LED

63

MAGETAN – Tagihan penerangan jalan umum (PJU) Kabupaten Magetan dipastikan masih membengkak. Sebab, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Magetan belum sepenuhnya menggunakan lampu berjenis LED dengan nyala putih yang lebih hemat energi. Melainkan menggunakan bohlam konvensional yang memiliki nyala lampu kuning dan memakan banyak energi. Sehingga tagihan PJU menjadi selangit. ‘’Secara bertahap akan kami ganti menjadi LED,’’ kata Kabid PJU, Peralatan, dan Laboratorium DPUPR Kabupaten Magetan Elmy Kurniarto Widodo.

Di wilayah perkotaan, setidaknya kini ada 3.000 lebih PJU. Dari total itu, baru 72 persen yang diganti menjadi lampu jenis LED. Sisanya masih menggunakan lampu lawas. Sedangkan tahun ini, DPUPR Magetan hanya mendapatkan jatah anggaran untuk membeli lampu jenis LED itu sebesar Rp 1,8 miliar. Itu hanya cukup untuk membeli sekitar 300 buah lampu. Ratusan lampu itu tidak hanya untuk menerangi wilayah perkotaan Magetan. ‘’Kami prioritaskan untuk mengganti wilayah perkotaan,’’ ujarnya.

Elmy mengakui, pergantian lampu itu menjadi salah satu kebutuhan yang mendesak. Sebab, anggaran yang dikeluarkan untuk membiayai tagihan listrik akan berkurang. Memang, untuk pengadaan LED terbilang menguras kantong. Namun, sebanding dengan penghematan yang dilakukan setelah lampu itu diganti. Untuk terangnya jangan ditanya, bisa 30 kali lebih terang dibanding lampu kuning. ‘’Makanya setiap tahun kami upayakan untuk bisa mengganti lampu lama dengan LED,’’ tuturnya.

Titik PJU yang harus segera diganti yakni dari ruas Stadion Yosonegoro ke timur. Semuanya masih menggunakan lampu konvensional. Padahal, jalur tersebut menjadi jalan masuknya Kabupaten Magetan dari arah timur. Secara estetika memang tidak sedap dipandang mata. Sebab, daerah lain kini sudah beralih menggunakan LED. Pun, dari usia. PJU di ruas jalan tersebut terbilang sudah uzur. Sehingga sudah semestinya diganti untuk kelayakannya. ‘’Sangat mendesak untuk diganti. Kami maksimalkan anggaran yang ada,’’ terangnya.

Kelemahan lain lampu konvensional dari segi perawatan. Tutup lampu kerap dimasuki serangga dan air saat hujan. Karena memang tidak rapat. Kondisi tutup lampu yang terbuat dari kaca itu menjadi buram. Akibatnya nyala lampu semakin meredup. Membersihkannya pun susah. ‘’Pergantian ini baru kami mulai tiga tahunan lalu. Jadi, masih banyak yang belum tersentuh,’’ ungkapnya.

Untuk menyiasati pengeluaran penggantian lampu itu, Elmy mencoba inovasi baru. Kap lampu lama dipasangi LED. Saat ini tengah masa uji coba untuk mengetahui ketahanannya pada outdoor. Hambatannya pada panas yang tidak bisa segera dilepaskan. Lampu itu akan awet jika lingkungannya dingin karena mudah menghantarkan panas. Selama setahun ini, tengah dilakukan uji coba apakah berhasil atau tidak. ‘’Jadi, tetap menggunakan kap lampu lama, tidak semua komponen diganti. Jadi, tinggal belanja bohlam LED,’’ pungkasnya. (bel/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here