Bantalan Karet Dam Meletus, Sawah di 21 Desa Terancam Kekeringan

132

PONOROGO – Meletusnya penampang karet diduga jadi biang keladi tidak berfungsinya Dam Sungkur. Lahan sawah yang mengandalkan pasokan air dari dam karet di Blembem, Jambon, Ponorogo, itu pun terdampak. Setidaknya air tidak dapat mengaliri irigasi sawah 21 desa di empat kecamatan. Yakni, Kecamatan Jambon, Ponorogo, Kauman, dan Sukorejo. ‘’Perawatan dam karet memerlukan tenaga khusus. Kami tidak punya,’’ kata Kabid Sumber Daya Air DPUPR Ponorogo Siswanto, Jumat (20/7).

Menurut Siswanto, fungsi bendungan karet ini sebagai pengendali banjir. Jika musim penghujan debit air meningkat, otomatis bendungan karet kempes. Sehingga air tidak meluber keluar bendungan. ‘’Tapi, untuk pemeliharaannya kami belum mumpuni. Selain itu, dam tersebut sebenarnya kewenangan  Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo,’’ lanjutnya.

Siswanto menjelaskan meletusnya karet penampang bagian tengah Dam Sungkur berpengaruh pada sedimentasi dasar sungai. Sehingga, menyebabkan air tidak dapat mengalir ke saluran irigasi persawahan. ‘’Sementara warga mengisi karet bagian tengah yang gembos dengan pasir sungai,’’ tuturnya.

Luas lahan sawah terdampak mencapai 1.486 hektare. Jika tidak segera ditangani, sawah terancam kekeringan pada puncak kemarau. Diperkirakan mulai Juli hingga Agustus mendatang. Berdasarkan usulan warga setempat, pihaknya mengajukan usulan konstruksi Dam Sungkur diubah jadi bendungan tetap. ‘’Tidak lagi karet, karena operasional dam karet sangat rumit,’’ sambungnya.

Usulan itu ditanggapi BBWS. Untuk mengubah konstruksi dari bendungan karet jadi bendungan tetap, pihaknya memerlukan penambahan penampang basah. ‘’Sehingga, luas bendungan akan disesuaikan dengan kebutuhan,’’ terangnya.

Siswanto mengungkapkan tahap desain konstruksi sudah dijalankan BBWS. Berdasarkan perencanaan, penampang basah ditambah sepanjang 27-an meter. Saat ini sedang proses pengerukan sisi barat bendungan untuk menambah penampang basah. ‘’Sepenuhnya jadi kewenangan BBWS. Jadi, istilahnya kami hanya ketumpangan tempat,’’ imbuhnya.

Pihaknya berharap fungsi bendungan dapat kembali seperti semula. Pun lahan terdampak kembali mendapat pasokan air. Meski demikian, pihaknya tidak dapat memastikan kapan pembangunan itu rampung. Lantaran sepenuhnya kewenangan BBWS. ‘’Kami harapkan secepatnya,’’ pungkas Siswanto. (mg7/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here