Banjir Kota gara-gara Air Antre di Kali Jeroan

151
FOTO: HENGKY RISTANTO/RADAR MADIUN

MADIUN – Banjir yang sering melanda sebagian wilayah Kota Madiun perlahan coba diurai. Hasil kajian dinas pekerjaan umum dan tata ruang (DPUTR) menyebutkan pangkal banjir yang sempat menggenangi Kelurahan Pilangbango, Kelun, Tawangrejo, Rejomulyo, dan Manisrejo pada Jumat lalu (18/1) bermuara dari Kali Jeroan, Balerejo, Kabupaten Madiun.

Saat itu posisi debit air di Kali Jeroan dalam kondisi naik. Sehingga, air kiriman dari Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, yang mengalir ke Kali Piring dan Kali Sono sulit masuk ke Kali Jeroan.

Kepala DPUTR Kota Madiun Suwarno menjelaskan, dalam posisi seperti itu seharusnya perlu dilakukan pemompaan air. Sehingga, bisa menekan durasi genangan air. ’’Tapi, ketika petugas (rumah) pompa di pintu 13 sana lengah, ya sudah pasti banjir wilayah kota,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Madiun kemarin (20/1).

Kendati demikian, Suwarno mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk menyelesaikan problem klasik tahunan itu. Karena sifat banjir di Kota Madiun berupa antrean air yang bermuara ke Kali Jeroan. ’’Apalagi banjir yang sempat terjadi beberapa hari lalu itu kan tidak terlalu nemen-nemen. Bahkan, dalam kota aman semua. Kan persoalannya itu banjir kiriman dari kabupaten, lalu antre di kota sebelum kemudian masuk ke kabupaten lagi,’’ beber mantan kepala BPBD tersebut.

Di sisi lain, DPUTR terus berupaya menormalkan sungai yang menjadi biang banjir di wilayah kota. Di antaranya, Kali Sono dan Kali Piring. Karena dalam beberapa tahun terakhir, air dari sungai itu kerap meluber dan menjadi momok bagi warga sekitar. Terutama warga Kelurahan Kelun, Tawangrejo, dan Pilangbango.

Selain diakibatkan pendangkalan, keberadaan sampah juga membuat aliran air di kali tersebut terhambat. Alhasil, air tumpah ke permukiman warga. ’’Pada tahun ini proses normalisasi Kali Sono di wilayah Tawangrejo kembali dilakukan. Termasuk di dalamnya peninggian tanggul sungai,’’ ujar Suwarno.

Sebelumnya pada tahun lalu pemkot sudah berusaha mengatasi persoalan banjir dengan berbagai kegiatan. Seperti pembuatan sumur resapan; pembangunan daerah tangkapan air Sumber Umis; normalisasi saluran Kali Sono, Slarangan, dan Kartini; hingga merampungkan pembangunan Embung Pilangbango. ‘’Sebaik apa pun (penanganan banjir, Red) di kota, kalau di Kali Jeroan tidak dibenahi pasti banjir tetap ada. Tapi, kami berusaha meminimalkan,’’ terang Suwarno.

Sementara itu, proses normalisasi sungai dengan membersihkan sampah yang sempat menyumbat di Jembatan Buk Malang saat banjir dua hari lalu mulai dibersihkan Sabtu (19/1).

Satu unit alat berat dari DPUTR dikerahkan untuk mengangkut sampah berupa potongan kayu dan ranting pepohonan tersebut. Proses perbaikan tiga alat pendeteksi banjir juga dilakukan oleh petugas BPBD. Sejumlah early warning system (EWS) itu sempat tidak menyala ketika banjir merendam lima kelurahan di Kota Madiun pada Jumat lalu (18/1).

Sekda Kota Madiun Rusdiyanto menyatakan perlu dilakukan kajian untuk pengendalian banjir di wilayah kota. Seperti perbaikan tanggul dan normalisasi sungai. ’’Kita akan lakukan kajian kembali terkait saluran-saluran yang ada. Baik itu pengedukan maupun peninggian plengsengan sungai,’’ katanya. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here