Bangunan Ratusan Juta Tak Berguna, Program Perikanan Tujuh Tahun Silam Tinggal Kenangan

306
DITINGGAL PEDAGANG: Bangunan pasar ikan di tepian Jalan Raya Ponorogo-Trenggalek mangkrak dan tidak terawat.

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Pasar ikan di Jalan Raya Ponorogo-Trenggalek mangkrak. Bangunan di tepian jalan nasional itu sama sekali tak ditempati pedagang. Keramaian di kios dan lapak yang memanjang itu tinggal kenangan. Sebagian bangunan lapuk dan berlubang, dijalari semak dan ilalang.

Siti Rumjanah mengingat pembangunan pasar ikan itu sejak tujuh tahun lalu. Setelah diresmikan, hanya ditempati seorang pedagang ikan. Lantaran tak ada pembeli, satu-satunya pedagang yang menjajakan hasil laut dari Pantai Prigi, Trenggalek, itu pilih gulung tikar. ‘’Jualannya waktu itu cuma ikan tongkol basah,’’ kenang pemilik warung di depan bangunan tak berguna itu.

Warga Ngadinoyo, Besuki, Sawoo, itu tahu persis. Ketika itu, pekerja proyek pembangunannya banyak yang marung ke tempatnya. ‘’Seingat saya, kata mandornya, itu proyek borongan tiga ratus juta,’’ ungkapnya.

Progresnya, lanjut Rumjanah, tidak lama. Pekerjaannya terbilang cepat. Meskipun pemanfaatannya berkisar satu-dua bulan saja. Sangat disayangkan. Melihat bangunannya yang relatif masih utuh (lantai dan dinding), akan lebih baik jika dimanfaatkan kembali. ‘’Eman, Mbak. Lha wis dibangun, kadung sampai diresmikan Pak Bupati. Kok ora kanggo,’’ ujarnya. Sebelum dibangun pasar ikan, kawasan itu dulunya banyak ditumbuhi beragam jenis tanaman. ‘’Jarene wong-wong, umpomo kenek dienggo adol sayur, kiro-kiro payu,’’ imbuh Rumjanah.

Kabid Perikanan Dinas Pertanian (Disperta) Ponorogo Aida Fitriana membenarkan kondisi pasar ikan tidak terurus. Dia memperkirakan pembangunannya antara 2011-2012. Setelah berdinas di disperta 2015, dia sempat berupaya menghidupkan kembali dengan mengumpulkan pedagang. Namun, pedagang menginginkan kondisi pasar yang terbuka itu diberi penutup. Agar tak perlu angkut barang setiap tutup lapak. ‘’Saya konsultasikan ke pemprov, arahannya kalau mau dimanfaatkan ya seadanya itu. Tidak boleh nambah-nambah bangunan, karena asetnya pusat,’’ katanya.

Kendala lainnya, lanjut Aida, tidak ada titik temu antara pedagang dan pengepul ikan. Pengepul minta bayaran kontan di depan. Namun, pedagang tak bisa menyanggupinya. ‘’Seingat saya, dulu ada 9-11 lapak di sana,’’ sebutnya.

Sampai kini, bangunan pasar ikan belum terdaftar sebagai aset pemkab. Pembangunannya bagian dari program Kementerian Kelautan dan Perikanan. Guna memberi kesempatan daerah untuk mengembangkan sektor perikanan di Bumi Reyog. Jalan Raya Ponorogo-Trenggalek dianggap jalur pedagang yang menjual hasil tangkapan ikan dari Trenggalek dan Tulungagung. ‘’Ikan tawar maupun laut, banyak dari kedua daerah itu. Terutama tongkol basah maupun yang telah diasinkan,’’ terangnya.

Aida paham besarnya potensi yang bisa dikembangkan dari bangunan yang sudah lama tak digunakan tersebut. Dia pun masih melihat adanya peluang untuk menghidupkan kembali pasar ikan. Menyusul dibangunnya Waduk Bendo. ‘’Sejauh ini memang belum ada pasar khusus ikan. Nanti kami koordinasikan lebih lanjut,’’ pungkasnya. (dil/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here