Bangunan Liar di Atas Saluran Perkotaan Biang Banjir

26

MADIUN – Faktor penyebab banjir di Kota Madiun begitu kompleks. Hasil survei dari dinas pekerjaan umum dan tata ruang (DPUTR) setempat, bangunan liar (bangli) yang berdiri di atas saluran air ikut menyumbang terjadinya banjir.

Drainase di sekitar kawasan Jalan Kaswari, misalnya, nyaris tidak berfungsi lagi mengalirkan air. Pemicunya, terdapat sejumlah bangunan kandang kambing di sempadan saluran. ‘’Tapi, kami sudah sosialisasi ke masyarakat setempat agar dibongkar,’’ kata Kepala DPUTR Kota Madiun Suwarno kemarin (15/4).

Dia berharap, warga ikut berperan aktif dalam penanganan masalah banjir. Salah satunya dengan tidak memanfaatkan sempadan saluran air untuk kepentingan pribadi. Sebab, bisa berdampak pada macetnya aliran air sehingga memicu terjadinya genangan.

Suwarno mengungkapkan, persoalan serupa terjadi di Rejomulyo, Pilangbango, dan Tawangrejo. Banjir yang sering melanda kawasan itu, kata dia, lebih disebabkan ulah sebagian warga seperti membuang sampah sembarangan.

Fakta itu terungkap saat pihaknya melakukan pembersihan Kali Sono beberapa waktu lalu. Ditemukan hampir 3 ton sampah yang menyumbat di sungai tersebut. ‘’Sampahnya nggak karu-karuan. Mulai sampah rumah tangga sampai pohon pisang,’’ ungkap mantan kepala pelaksana BPBD Kota Madiun tersebut.

Namun, kata dia, yang paling krusial adalah tidak mendirikan bangunan semi permanen di sepanjang sempadan saluran air. Dia mencontohkan di Tawangrejo. Di area sekitar Kali Sono itu terdapat 3–4 bangunan rumah yang berdiri di dekat sempadan sungai. ‘’Tahun ini kami ada normalisasi sempadan (sungai) di sana,’’ kata Suwarno.

Meski begitu, diakuinya normalisasi saluran air itu tidak mudah. Sebab, pihaknya harus mengklarifikasi keberadaan bangunan di sekitarnya kepada pemilik rumah. Beberapa waktu lalu petugas DPUTR sempat mendatangi rumah-rumah di kelurahan tersebut.

Mereka melakukan pendekatan kepada warga agar bersedia memundurkan bangunan rumahnya dari sempadan saluran lantaran bakal dibangtun jalan inspeksi di lokasi tersebut. Kebijakan itu bagian dari pengamanan aset yang dilakukan pemkot, sekaligu pengendalian masalah banjir.

‘’Sebab, kalau nggak kami begitukan tambah tahun pasti akan dibuat rumah oleh penduduk. Kalau sudah begitu nanti kami yang kesulitan menertibkannya,’’ kata Suwarno kepada Jawa Pos Radar Madiun.

DPUTR kini terus memeriksa saluran air di sejumlah lokasi yang rawan banjir. Tujuannya, memperkecil kemungkinan terjadinya genangan air di lingkungan rumah penduduk akibat hujan deras. Di sisi lain, melakukan normalisasi sungai yang menjadi biang banjir di wilayah kota. Termasuk meninggikan tanggul.

Di luar itu, pemkot menambah kapasitas pompa air di beberapa titik seperti Jalan Kaswari, Kelurahan Nambangan Lor, Patihan, dan Sogaten. (her/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here