Bangun Poli Jiwa, RSUD Caruban Butuh Duit Rp 5,3 M

255

MEJAYAN – Tingginya angka orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Madiun membuat pemkab setempat terusik. RSUD Caruban tahun ini bakal membangun gedung perawatan dan poliklinik penanganan penderita sakit jiwa.

Anggaran yang dikucurkan terbilang fantastis. Untuk perencanaan dan pembangunan, alokasinya mencapai Rp 4,3 miliar bersumber dana alokasi umum (DAU). ‘’Belum termasuk pengadaan peralatan sekitar Rp 1 miliar lebih yang disendirikan,’’ kata Direktur Utama RSUD Caruban Djoko Santoso kemarin (18/2).

Djoko menyebut, urgensi mendirikan poliklinik dan ruang jiwa karena tingginya angka ODGJ. Bahkan, jumlahnya berpotensi bertambah seiring problematika hidup yang kian kompleks. Di sisi lain, penanganan ODGJ di Kabupaten Madiun selama ini belum maksimal.

Lantaran tidak ada pelayanan poli khusus, mereka harus dirujuk ke rumah sakit daerah tetangga. ‘’Misalnya Ngawi, Nganjuk, atau Solo, menyesuaikan jarak dengan tempat tinggal penderita,’’ ujar Djoko kepada Radar Mejayan.

RSUD Caruban sejatinya telah mengusulkan pembangunan gedung poliklinik jiwa dua tahun lalu. Namun, karena keterbatasan dana, baru bisa direalisasikan tahun ini. Dana kakap yang digelontorkan untuk pengembangan pelayanan itu dinilai sebanding dengan fisik bangunan. Sebab, bakal lebih spesifik dan memperhitungkan keamanan menyesuaikan karakteristik pasien yang dirawat. ‘’Tentu berbeda dengan poliklinik umum. Baik kondisi dalam maupun luar bangunan,’’ paparnya.

Sesuai site plan, pembangunan gedung memakan lahan seluas 676 meter persegi. Lokasinya di kompleks RSUD paling selatan, berjauhan dengan perawatan pasien umum. Sedangkan kapasitasnya sebanyak 24 tempat tidur dengan pemisah tembok antara satu pasien dengan lainnya.

Gedung tersebut dikelilingi pagar tinggi dan berkawat. Hanya ada satu gerbang pintu sebagai akses keluar masuk. ‘’Meski masih satu kompleks, tapi bangunannya terpisah dengan menghadap ke arah selatan,’’ ungkap Djoko.

Dia menjelaskan, proyek saat ini masih tahap perencanaan. Awal Mei mendatang ditarget masuk pelelangan. Bila dana masih mencukupi, pihaknya berencana memberikan pelatihan kepada para tenaga perawat di akhir tahun. Mereka harus mengantongi sertifikasi khusus merawat pasien penyakit jiwa. Harapannya, bangunan bisa mulai dioperasikan awal 2020. ‘’Tapi kalau memang tidak memungkinkan, ditarget bisa melayani rawat inap ODGJ pertengahan 2020,’’ tuturnya.

Djoko mengklaim tidak ada masalah terkait sumber daya manusia (SDM) khusus poliklinik ODGJ. Pihaknya menyiapkan 15 perawat yang disesuaikan daya tampung pasien. Rencananya, mereka diambil dari yang biasa bertugas di instalasi gawat darurat (IGD). Sementara, untuk dokter spesialis kejiwaan disiapkan dua tenaga. ‘’Satu sudah memberikan pelayanan, yang satunya lagi masih menyelesaikan sekolah,’’ ujarnya. (cor/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here