Bambang Sukamto Berkibar lewat Wallpaper Dinding Kayu

144

Berwirausaha harus fokus pada satu produk. Prinsip itu diyakini betul oleh Bambang Sukamto hingga akhirnya menjelma sebagai pebisnis sukses lewat wallpaper dinding kayu.

———————

DESING mesin pemotong kayu seketika menusuk telinga saat sampai halaman depan rumah Bambang Sukamto. Potongan-potongan kayu tak seberapa besar ditumpuk menjadi beberapa titik. Memasuki ruang kerja, sejumlah pekerja sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Di paling ujung ruangan, tampak dua orang berdiri di atas mesin pemotong. ‘’Kalau ini yang sudah jadi, tinggal finishing, lalu dikemas,’’ kata Bambang.

Sejurus kemudian, giliran indra penciuman yang disuguhi aroma khas remah kayu. Di samping tempat pemotongan, tepatnya di belakang rumah utama warga Desa Sumberbening, Bringin, itu terdapat ’’gunung’’ limbah kayu. Sengaja ditumpuk di tempat terbuka untuk mendapatkan gurat khas kayu yang lapuk. ‘’Yang seperti ini, bagus ini nanti motifnya,’’ ujarnya sambil mengangkat satu potong kayu selengan orang dewasa yang permukaannya sudah geripis dimakan rayap.

Memanfaatkan limbah kayu dan tonggak jati, Bambang memproduksi wallpaper dinding. Pun, karyanya itu sudah menembus pasar luar negeri. Sejak 2017 lalu dia rutin memasok permintaan warga Swiss untuk dipasarkan di Jerman. Sebelumnya, dia bekerja sama dengan buyer asal Belanda. ‘’Selama tahun lalu, saya dapat omzet Rp 5,3 miliar,’’ ungkap pria 57 tahun ini.

Penghasilan Bambang dipastikan bakal naik tahun ini. Itu menilik permintaan wallpaper dinding kayu yang semakin meningkat dari warga Swiss tersebut. Dari yang semula Bambang mengirim enam kontainer selama setahun, kini minimal 10 kontainer wallpaper dinding kayu mesti dia kirim. ‘’Bahan cukup, tenaga juga sudah mumpuni. Dalam waktu dekat ini ada tambahan alat produksi juga,’’ terangnya.

Sukses yang diraih Bambang tidak datang begitu saja. Semuanya dia awali dari nol. Jatuh-bangun saat memulai usaha tak luput dialaminya. ‘’Mulai fokus ke wallpaper sejak 2012. Sebelumnya buat berbagai macam kerajinan dari kayu jati juga,’’ jelas suami Samini ini.

Bagi Bambang, 2012 benar-benar menjadi tahun bersejarah. Waktu itu dia bermantap hati meninggalkan usaha kerajinan kayu lantaran atmosfer bisnis yang kurang menjanjikan. Kondisi banyaknya pesaing dan letak rumahnya yang jauh dari jalan raya menjadi pertimbangan gambling Bambang. ‘’Saya waktu itu berpikir, tidak akan berkembang kalau tetap mengerjakan bermacam kerajinan,’’ ungkapnya.

Pameran dari stan satu ke stan bazar lain sejatinya sudah dilakoni Bambang ketika menekuni beraneka kerajinan berbahan kayu jati. Namun, kondisi kantong tetap stagnan. Terkadang, malah sampai melilit. Hasil kerajinan buatannya kalah bersaing dengan perajin lain yang memiliki lokasi pemasaran lebih strategis.

‘’Ide buat wallpaper seperti ini muncul saat melihat dinding dari tatanan batu-batuan. Kebetulan, saya lihat itu di stan saya sendiri saat ikut pameran juga,’’ ungkapnya.

Ide di kepala Bambang itu lantas diaplikasikan ke potongan-potongan kayu sisa usaha yang dia tekuni sebelumnya. Wallpaper dinding kayu berhasil dibuat. Sembari memamerkan barang kerajinan di sebuah bazar berkelas internasional, Bambang yang kala itu digandeng pemerintah setempat sengaja memasang karyanya di jatah stan miliknya.

Singkat cerita, beberapa bule kepincut dengan rangkaian-rangkaian papan kayu dengan gurat tekstur alami kayu bikinannya. ‘’Bule-bule itu bilang good, good, nice, nice, gitu,’’ kenang ayah tiga anak ini.

Mengetahui mata sejumlah pengunjung bazar dari luar negeri yang antusias, Bambang kala itu berkeyakinan bahwa apa yang dibuatnya bakal booming suatu saat. Akhirnya, dia memutuskan untuk fokus buat wallpaper dinding dan meninggalkan kerajian. ‘’Benar-benar sudah mantap di wallpaper waktu itu. Ada permintaan kerajinan, saya tolak,’’ ungkapnya.

Di awal fokus ke wallpaper dinding kayu, kantong Bambang juga kembang kempis. Tetap ikut bazar ke sana ke mari, produk buatannya laris. Namun, sepi pembeli kembali terjadi tiga bulan berikutnya. Kendati begitu, dia bersikukuh dengan apa yang diyakininya.

Wallpaper dinding kayu buatannya memiliki ciri khas tersendiri. Yakni, gurat-gurat bekas kayu yang telah lapuk digerogoti rayap pada sisi luarnya. ‘’Bagi yang sudah paham, corak alami dengan yang buatan itu jelas berbeda,’’ sebutnya.

Memulai pada 2012, Bambang jatuh bangun dengan wallpaper dinding kayu selama empat tahun. Pada 2016 dia mulai mengecap manis dari apa yang diyakininya tersebut. Bahkan, sekarang bertambah manis setelah mengenal buyer asal Swiss. ‘’Kuncinya, harus punya spesialisasi dan fokus. Banyak yang dikerjakan itu tidak baik,’’ ucapnya. ***(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here