Ponorogo

Balon Udara Jadi Momok Menakutkan Jalur Penerbangan

BAGI pilot, balon udara adalah momok menakutkan. Sebab, dapat terbang bebas hingga ke jalur penerbangan. Bahkan selama libur lebaran ini, tiga daerah acap dihindari pilot lantaran ditemukan banyak balon berterbangan. ‘’Solo, Jogja, dan Semarang. Selama libur lebaran ini ada 28 laporan kami terima dari pilot yang melihat balon udara di jalur penerbangan mereka,’’ sebut Direktur Teknik AirNav indonesia Ahmad Nurdin Aulia, Rabu (12/6).

Ahmad menjelaskan betapa bahayanya balon udara di mata pilot dan AirNav. Dari berbagai laporan yang diterima, pilot melihat balon udara berada di areal jalur penerbangan mereka. Sementara, pesawat umumnya terbang di ketinggian 200 ribu kaki ketika terbang jelajah, kemudian berangsur turun di kisaran 15-20 ribu kaki ketika hendak mendarat. Begitu pula ketika hendak lepas landas. ‘’Jadi ketinggiannya bisa mencapai 15-20 ribu kaki,’’ kata dia.

Tidak hanya itu. Balon udara terbang secara liar, kemanapun angin mendorong. Karena itu, pilot lebih memilih menghindar jauh jika mendapati balon udara di sekitar jalur penerbangan. Wilayah udara Solo, Jogja, dan Semarang lantas dihindari para pilot lantaran banyaknya temuan balon udara. AirNav memberi rute alternatif melalui jalur udara laut Jawa. ‘’Karena menghindar, fuel (bahan bakar) banyak yang terbuang. Ini membuat maskapai merugi karena biaya bahan bakar ini semakin besar,’’ urai Ahmad.

Yang lebih penting, kata Ahmad, adalah keselamatan penerbangan. Banyak nyawa terancam melayang ketika pesawat sampai menyambar balon udara. ‘’Karena itu pilot sangat takut. Dari sisi keselamatan, tidak terbayangkan. Selain itu juga merugikan (maskapai penerbangan),’’ ujarnya. ‘’Besarnya resiko ini mungkin tidak terpikirkan masyarakat yang menerbangkan balon udara di bawah,’’ imbuh Ahmad.

Hal senada diungkapkan Direktur Navigasi Penerbangan Kemenhub Asri Santosa. Balon udara yang diterbangkan dengan disertai sumbu api sangat membahayakan pesawat. Sangat mungkin sumbu api menyulut ledakan ketika tersambar sayap atau bagian pesawat lainnya.

Meski begitu, Asri tidak memungkiri bahwa balon udara sudah menjadi tradisi di sejumlah masyarakat. ‘’Asalkan dipenuhi aturan-aturannya, balon udara ini selain tradisi juga merupakan potensi untuk pariwisata. Yang terpenting jangan membahayakan. Ke depan, edukasi-edukasi ini akan ditingkatkan, termasuk melalui pendidikan terhadap anak di sekolah,’’ tandasnya. (naz/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close