Balita 2,5 Tahun Tewas Dihajar Bapak Tiri

636

APARAT Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak membongkar makam seorang balita berusia 2,5 tahun pada Sabtu (23/6) lalu. Sang bocah berinisial MR. Polisi menerima laporan dari paman MR tentang adanya dugaan penganiayaan sebelum tewas.

Laporan tersebut masuk ke meja polisi sehari sebelumnya, Jumat (22/6). Setelah dibongkar, jenazah MR diotopsi. Hasilnya memang ada bekas-bekas luka tanda penganiayaan di kepala dan perut.

“Setelah kami gali keterangan dari beberapa saksi didapat keterangan bahwa penganiayaan itu dilakukan ayah tiri korban,” terang Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Antonius Agus Rahmanto.

Senin petang (25/6), polisi merilis kasus tersebut dengan menghadirkan Wisnu Cokro Buono. Pria 35 tahun itu tak lain adalah ayah tiri MR. “Setelah kami periksa intensif, statusnya kami naikkan sebagai tersangka,” tegas Agus.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Tinton Yudha Riambodo menceritakan kronologi penganiayaan yang terjadi pada Rabu (20/6) silam. Semuanya berawal saat Wisnu memandikan MR di rumah kosnya, Jalan Kedung Mangu Timur, Semampir. Wisnu memandikan anak tirinya lantaran sang istri berinisial NL sedang ke rumah temannya untuk halalbihalal.

Saat dimandikan, MR rewel. Dia terus-menerus menangis tanpa bisa dibujuk oleh Wisnu. “Dari sanalah tersangka kesal lalu meluapkan amarahnya kepada korban,” terang Tinton.

Kekesalan Wisnu diluapkan dengan memukulkan gayung ke kepala MR. Belum puas melampiaskan amarahnya, kepala MR lantas dimasukkan ke dalam ember berisi air kira-kira selama 10 detik. Napas MR pun tersengal-sengal. “Setelah itu korban juga sempat dipukul pada bagian perut,” lanjut polisi dengan tiga balok di pundak tersebut.

Saat NL pulang, MR sudah tergolek lemas. MR lantas dibawa ke RSUD dr. Soewandhi. Wisnu sendiri yang mengantar anak tirinya ke rumah sakit dengan mengendarai sepeda motor.

Namun pertolongan itu terlambat. MR dinyatakan Dead on Arrival (DoA) alias sudah meninggal di perjalanan. Nyawanya tidak bisa diselamatkan. Kasus penganiayaan disertai pembunuhan tersebut hampir saja tidak ketahuan jika paman MR tidak peka. Saat melihat jenazah keponakannya, dia mendapati luka-luka lebam di perut MR.

Saat ditanyakan kepada Wisnu mengenai luka-luka itu, dia mengaku tidak tahu apa-apa. Merasa tidak puas, paman MR memfoto jenazah lantas melaporkannya ke polisi. (did/jawapos.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here