Ponorogo

Balada Perpusda di Pinggiran Kota Reyog

Sebuah kota harus dibangun dengan tradisi membaca. Rendahnya minat baca tentu memengaruhi kualitas perkembangan dan kemajuan suatu daerah. Sudahkah perpustakaan daerah menjadi wadah menceruk pengetahuan bagi warganya?

————–

DILA RAHMATIKA, Ponorogo, Jawa Pos Radar Ponorogo

GOOGLE MAP buta. Aplikasi itu tidak dapat menunjukkan lokasi Perpusda Ponorogo. Membuat Vegga Septiana dan Navella Shara Putri celingak-celinguk saat berboncengan motor menyusuri Jalan Trunojoyo. ‘’Kami kebablasan. Putar balik, baru ketemu,’’ kata Vegga.

Sesampainya di teras perpusda, kedua mahasiswi itu mendekati petugas di meja pelayanan. Mengutarakan niatannya mendaftarkan diri sebagai anggota. Keduanya lantas diminta mengisi lembaran kertas administrasi keanggotaan perpusda. ‘’Sebelumnya tanya ke teman (untuk mendaftar anggota) harus disertai surat keterangan RT. Kok ribet,’’ ujarnya.

Keraguan itu akhirnya dijawab dengan mendatangi perpusda saat itu juga. Usai mengisi lembaran, kartu tanda anggota langsung diproses cetak. Sembari menunggu, keduanya menyusuri deretan rak buku. Langkah mereka terhenti di rak buku berisikan koleksi baru. Vegga tergoda mengambil Dilan. Novel hit bersampul biru karangan Pidi Baiq. Lantas duduk di ruang baca. Dari enam meja baca berlapis taplak batik cokelat itu, hanya satu yang terisi. ‘’Sepi ya,’’ ucap Vegga mengutarakan kesan pertamanya mendatangi perpusda. ‘’Ke sini ngisi waktu libur kuliah. Kalau butuh referensi, biasanya ke perpustakaan sekolah,’’ imbuh mahasiswi Universitas Negeri Malang itu.

Vegga beralamatkan di Balong. Sedangkan Navella mahasiswi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Tangsel, Banten, beralamat di Jalan Gatot Subroto, Ponorogo. Kemarin keduanya sengaja janjian untuk bersama-sama mendatangi perpusda kali pertamanya. ‘’Sebaiknya, antara ruang baca dengan meja layanan disekat,’’ timpal Navella.

Gadis berkerudung hitam itu menyebut lokasi perpusda terlalu dekat jalan raya. Bising dan kurang nyaman untuk dijadikan tempat membaca. ‘’Ponorogo kan kampusnya banyak. Perpusda pasti jadi jujukan terakhir ketika referensi tidak ada di perpustakaan kampus,’’ katanya.

Lain cerita dengan yang dirasa Imam Asrofi. Dia sudah ketiga kalinya ke perpusda. Kedatangannya kali ini untuk pengayaan bahan skripsinya. Dia mencari buku teknik menggambar. Sayang, referensi yang dicarinya tidak ada. Mahasiswa Perkumpulan Guru Madrasah Indonesia (PGMI) Institut Agama Islam Indonesia (IAIN) Ponorogo itu pulang dengan tangan hampa. ‘’Sekelas Ponorogo, referensinya kurang lengkap,’’ ujarnya.

Pengunjung dari kalangan umum juga mengutarakan pendapatnya. Muhamad Soliki dan Dyah Martin, pasutri asal Desa Pondok, Kecamatan Babadan, itu terbiasa berkunjung dua kali sepekan. Sejak kepindahan keduanya dari Bojonegoro beberapa tahun terakhir. Pembaca setia koleksi perpusda ini lebih nyaman meminjam untuk dibawa pulang. ‘’Mau baca-baca disini nggak cukup waktunya. Sebaiknya memang dibuat nyaman (ruang baca, Red) biar ramai,’’ kata Soliki.

Soliki gemar membaca buku sejarah. Istrinya suka membaca novel bergenre misteri dan romansa. ‘’Kami membaca untuk mengurangi kebiasaan bermain smartphone. Di sini, sekali pinjam bisa sampai enam buku,’’ ujarnya. ***(fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close