Bak Jomblo, Pantang Ikuti Ritme Cyclist Lain

94

Latihan keras yang dilakoni Choirul Huda berbuah manis. Cyclist asal SRBC itu berhasil menyandang predikat King of Mountain (KOM) kategori MTB Open  Srambang KOM Challenge 2018.

TANJAKAN terakhir menjelang finis menyajikan kesan istimewa bagi para peserta Srambang KOM Challenge 2018. Tidak terkecuali bagi cyclist kategori mountain bike (MTB) open Choirul Huda. Ngos-ngosan, tapi puas. Begitulah yang ada di benak Choirul tentang tanjakan pemungkas di Desa Girimulyo, Jogorogo, itu. ‘’Berat sekali tanjakannya kalau untuk MTB,’’ katanya.

Choirul mengaku puas bisa terlibat dalam event Srambang KOM Challenge 2018. Kepuasannya mengayuh pedal dan mengalahkan tanjakan makin komplet dengan gelar KOM yang berhasil diraih. Namun, itu tidak gampang. Choirul mesti berpeluh ria setiap kali dihadapkan dengan tanjakan. ‘’Seingat saya, ada tiga tanjakan njeglek,’’ ujar pemuda 29 tahun ini.

Lazimnya cyclist, kunci utama keberhasilan Choirul adalah kepiawaian mengatur ritme. Keteraturan kayuhan pedal dan napas menjadi poin yang tidak bisa ditawar. Sedari start, warga Desa Kuwiran, Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah, itu betul-betul memperhatikan ritme di atas MTB yang ditunggangi.

‘’Atur napas dan putaran kaki harus pas. Kalaupun ditingkatkan power-nya saat menanjak, bagaimana caranya biar tetap stabil juga antara bernapas dan mengayuh,’’ paparnya.

Apa yang diterapkan staf farmasi salah satu rumah sakit di Jogjakarta itu membuahkan hasil. Kayuhan demi kayuhan mengantarnya menerobos garis finis dengan catatan tercepat di kelasnya. Sensasi plong benar-benar dirasanya sesaat setelah melintasi garis finis dengan sambutan aksi marching band. ‘’Anak-anak SD yang menyambut di beberapa titik rute asyik juga,’’ ujarnya.

Event Srambang KOM Challenge 2018 Sabtu lalu (13/10) juga menyuguhkan pengalaman lain bagi Choirul. Nyaris sepanjang rute, dia bak seorang cyclist jomblo. Bagaimana tidak, pemuda itu lebih banyak bermanuver sendirian tanpa masuk peleton. Bukannya apa-apa, dia cuma tidak ingin mengikuti ritme cyclist lain.

Choirul meyakini tiap cyclist memiliki ritme masing-masing. Pun batasan-batasan ketahanan fisik yang hanya diketahui si pesepeda yang bersangkutan. ‘’Minusnya bermanuver sendirian adalah saat ada angin kencang. Itu sangat berpengaruh bagi kondisi fisik, apalagi saat kompetisi,’’ paparnya.

Apa yang didapat hari ini merupakan hasil dari hari sebelumnya. Ungkapan tersebut dipegang betul oleh Choirul. Dia sengaja pasang target juara sesaat setelah mengetahui Srambang KOM bakal digelar. Pemuda yang mulai keranjingan nggowes sejak lima tahun silam itu begitu antusias menyambut event tersebut. ‘’Kalaupun kemarin itu tidak dapat juara, rasanya juga tidak rugi ikut event ini. Pemandangan di  Srambang Park sudah cukup membayarnya,’’ ucapnya.

Choirul mendaftarkan diri bersama beberapa rekannya di Solo Road Bike Community (SRBC). Ya, dia sengaja ambil kategori MTB kendati maju dari kumpulan cyclist road bike. Choirul yang sebelumnya akrab dengan touring sepeda balap, penasaran ingin menjajal suasana baru dengan MTB.

Tidak sekadar ingin mendapatkan pengalaman anyar, Choirul mempertanggungjawabkan pilihannya tersebut dengan latihan khusus. ‘’Dua minggu full saya latihan nanjak pakai MTB,’’ tuturnya kepada Radar Ngawi.

Selama 14 hari, dua kaki Choirul tak lepas dari pedal sepada gunung. Menu latihan ekstraketat dilahapnya. Sehari dua kali -pagi dan sore- dia berkutat dengan tanjakan-tanjakan di Jogjakarta. Jarak tempuh setiap kali latihan tidak kurang dari 50 kilometer. ‘’Latihan nanjak dengan MTB di Bukit Breksi dan Bintang Jogja,’’ ujarnya. ***(deni kurniawan/c1/isd)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here