Zimbabwe dan Angola Kepincut Kereta Buatan PT INKA

278
TERTARIK: Usai perhelatan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID), perwakilan Zimbabwe dan Angola sengaja berkunjung ke PT INKA di Kota Madiun.

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Perwakilan Zimbabwe dan Angola mendatangi PT INKA Kota Madiun Kamis (22/8). Ketertarikan kedua negara itu mendatangi PT INKA usai perhelatan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID) 2019 secara resmi dibuka di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Selasa lalu (20/8).

Kedatangan perwakilan kedua negara itu ingin melihat berbagai jenis kereta. Dalam kesempatan itu, perwakilan kedua negara juga menyampaikan ketertarikan dan keinginan memesan kereta api. Bahkan berencana memesan kereta dalam skala besar.

Namun, Dirut PT KAI Budi Noviantoro mengungkapkan bahwa dalam pertemuan itu belum menemui kata sepakat. Pihaknya masih dalam tahap mendiskusikan bagaimana bentuk kerja sama tersebut. ‘’Masih kami diskusikan mendalam. Pada intinya mereka meyakinkan PT INKA bersedia atau tidak,’’ kata Budi.

Budi menyebut banyak pertanyaan yang harus dijawab kedua perwakilan negara tersebut agar PT INKA yakin. Terutama bagaimana tata cara pembayarannya. Mengingat secara finansial, kedua negara tergolong lemah. ’’Pertanyaannya bagaimana cara mereka membeli. Jangan sampai nanti tidak bayar,’’ ujarnya.

Karena itu, pihaknya memberikan beberapa opsi pilihan bentuk kerja sama. Salah satunya kerja sama be-to-be. Yakni, model kerja sama yang tengah dikembangkan dalam bentuk sinergitas antar-BUMN. ‘’Kami lihat dulu mereka punya apa. Misal hasil bumi, bisa batu bara atau minyak bumi, dan komoditas yang berpotensi,’’ terangnya.

Jika kedua negara memiliki komoditas unggul yang dapat dijual, kemungkinan besar kerja sama dapat terjalin. Angola, misalnya, jika negara tersebut punya tambang tembaga dalam skala besar, maka PT Pertamina dapat menjalin kerja sama terlebih dahulu. ‘’Nah, jika sudah ada kerja sama antar keduanya, maka kami siap fasilitasi dengan angkutan kereta api tambang. Mulai jalurnya hingga gerbongnya,’’ sambung Budi.

Kendati demikian, hal tersebut diakuinya membutuhkan waktu dan proses panjang. Pun dia menyampaikan beberapa alasan pemberian opsi bentuk kerja sama itu. Pertama, pihaknya sengaja menawarkan angkutan kereta tambang agar dapat membuka peluang kerja sama kedua negara tersebut dengan PT Pertamina.

Kedua, pihaknya mengantisipasi kerugian dari kerja sama tersebut. Artinya, pembayaran tidak dapat dilunasi oleh kedua negara. Sehingga hasil bumi atau komoditas lainnya yang berpotensi layak dijadikan opsi kerja sama. ’’Bukan kereta penumpang, kami sudah tunjukkan banyak kereta tadi. Mereka tertarik semua,’’ tuturnya.

Pihaknya berharap dalam beberapa waktu ke depan kerja sama itu dapat diwujudkan. Tentunya harus dengan kesepakatan sama-sama mendapatkan keuntungan. ‘’Setelah mengetahui hasil bumi yang berpotensi, bisa jadi PT Pertamina akan masuk kerja sama memproduksi hasil bumi itu. Dari hasil itu kami bayar dengan kereta, mulai dari rel sampai keretanya,’’ paparnya. (kid/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here