Ayo, Cegah DBD dengan PSN

64

MADIUN – Pemberantasan sarang nyamuk atau PSN menjadi kunci pencegahan kasus demam berdarah dengue (DBD). Sebab, cara itulah yang saat ini dianggap paling efektif untuk mengatasi penularan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Sepanjang Januari–Februari 2019, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) Kota Madiun mencatat telah terjadi 66 kasus DBD. Serta seorang penderita di antaranya meninggal dunia. Selain itu, dari jumlah kasus tersebut mayoritas penderita di Kota Madiun adalah anak remaja usia 5–17 tahun. Hal itu terjadi karena daya tahan mereka belum sebaik orang dewasa.

Kendati demikian, dinkes-KB menyatakan kasus DBD yang ada saat ini belum termasuk kategori kejadian luar biasa (KLB). ‘’Dikatakan KLB kalau jumlah kasus kematian dan DBD lebih banyak dari tahun sebelumnya. Juga kalau sudah mengganggu sosial ekonomi. Di mana masyarakat tidak berani beraktivitas karena takut terkena wabah DBD,’’ terang Kepala Dinkes-KB Kota Madiun dr AS Wardani.

Dia menyatakan pentingnya menyosialisasikan kewaspadaan untuk mencegah penularan DBD serta mempromosikan kembali gerakan PSN 4M Plus. Kegiatan itu sekaligus menunjang beberapa program yang sebelumnya telah dilakukan. Seperti mengerahkan juru pemantau jentik (jumantik) dan pengasapan (fogging). ‘’Fogging itu racun yang disemprotkan. Sifatnya bukan pencegahan. Fogging ini hanya membunuh nyamuk dewasa, jentiknya tidak mati. Makanya, (gerakan) PSN harus terus dilakukan setiap hari,’’ imbaunya.

Adapun, menurut Wardani, syarat fogging harus disertai dengan laporan kewaspadaan dini rumah sakit (KDRS) jika terjadi kasus DBD. Laporan ini diberikan kurang dari 24 jam sejak diagnosis dikeluarkan oleh rumah sakit. Selanjutnya, dinkes bakal melaporkan ke puskemas agar dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE). PE ini bertujuan mengetahui potensi penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut. ‘’Diagnosis tidak terpaku pada positif DBD, tapi kalau suspect juga harus dilaporkan,’’ paparnya.

Dia menambahkan, penyelidikan ini terus berlanjut hingga ke penderita. Puskesmas akan melakukan pengecekan di 20 rumah sekitar penderita. Namun demikian, lingkungan tempat tinggal penderita tidak semua dilakukan fogging. Pengasapan baru bisa dilakukan jika 20 persen dari hasil pemeriksaan dikatakan positif jentik. ”Dicek apa ada penderita lainnya, atau ada warga yang panas tanpa sebab yang jelas,” imbuh Wardani.

Sampai saat ini, Dinkes-KB Kota Madiun telah melakukan fogging di beberapa sekolah yang telah dinyatakan memenuhi syarat untuk dilakukan pengasapan. Namun, Wardani mengimbau agar pihak sekolah terus melakukan gerakan PSN dan menggalakkan lingkungan sekolah yang bersih. (dya/c1/her/adv)

Satu Rumah Satu Jumantik

“AYO bersama-sama lawan demam berdarah, budayakan 4M Plus.” Seruan ini sengaja digemakan oleh dinkes-KB untuk menekan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang terjadi di Kota Madiun.

Mereka juga menjadikan juru pemantau jentik (jumantik) sebagai kader pelopor gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan metode 4M Plus. Meliputi menguras dan menutup tempat penampungan air, mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas, serta memantau jentik. Sedangkan, kata plus bersifat preventif.

Seperti upaya menghindari gigitan nyamuk Aedes aegypti menggunakan repelan antinyamuk, menanam tanaman antinyamuk, melakukan larvasidasi nyamuk, dan memakai kelambu. ”Pemantauan jentik ini sangat penting dan harus rutin. Pasalnya, jentik ini cikal bakal nyamuk Aedes aegypti yang sangat membahayakan,’’ kata Kepala Dinkes-KB Kota Madiun dr AS Wardani.

Dia menuturkan, upaya pencegahan DBD setidaknya bisa dilakukan dengan cara pengurasan bak mandi satu kali dalam seminggu. Serta membersihkan lingkungan tempat tinggal dan mengubur barang bekas. ‘’Tanaman yang memiliki tempat untuk menampung air itu juga harus sering dicek apakah ada airnya,” ujarnya.

Seperti diketahui, peran kader jumantik sangat penting dalam upaya pencegahan kasus DBD sejak dibentuk oleh Dinkes KB Kota Madiun sekitar 10 tahun lalu. Mulai tingkat RT, pelajar sekolah, hingga jumantor OPD.

Dengan sistem satu rumah satu jumantik, kata Wardani, mereka diharapkan bisa menjadi ujung tombak untuk melakukan pemantauan jentik di rumah dan lingkungan sekitarnya. ”Setiap satu RT satu jumantik. Pemantauan dari rumah ke rumah itu dilakukan seminggu sekali secara acak dengan metode sampling,’’ paparnya.

Wardani mengungkapkan bahwa metode itu dianggap mampu menggerakkan masyarakat melakukan 4M Plus secara berkelanjutan. Upaya pencegahan kasus DBD lainnya adalah dengan menggelar lomba kelurahan siaga aktif dan kelurahan bebas jentik. ‘’Dengan kader jumantik ini diharapkan masyarakat ada kemauan untuk mencegah DBD dan memberantas sarang nyamuk di sekitarnya. Jadi, tidak harus menunggu ada kasus DBD di lingkungannya. Pencegahan dini itu perlu,’’ tekannya. (dya/c1/her/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here