Atur Lalu Lintas dengan Dandanan ala Spider-Man, Salepo Jadi Viral

396
SUPERHERO: Penampilan Salepo yang unik menarik perhatian para pengguna jalan.

Sosok Spider-Man saat ini biasa terlihat mengatur arus lalu lintas di sekitar proyek box culvert pertigaan Jalan Merak, Kota Madiun. Adalah Nyono Sugiono orang di balik kostum superhero tersebut. Siapakah pria yang akrab disapa Salepo itu?

———–

NUR WACHID, Madiun, Jawa Pos Radar Madiun

BUNYI klakson terdengar sahut-menyahut di pertigaan Jalan Merak. Antrean panjang kendaraan lazim terlihat setiap pagi di situ sejak beberapa bulan terakhir. Itu tidak terlepas dari adanya proyek box culvert di sekitar lokasi tersebut.

Namun, kali ini para pengguna jalan sedikit terhibur. Sebab, ada sosok mengenakan kostum Spider-Man dengan cekatan mengarahkan kendaraan yang melintas. Tidak sedikit pengendara yang mengabadikan momen itu melalui smartphone. ‘’Banyak juga yang berhenti untuk selfie,’’ kata Nyono Sugiono, sang ’’superhero’’.

Sudah dua bulan terakhir Salepo –sapaan akrab Nyono Sugiono- membantu mengatur arus lalu lintas di sekitar proyek box culvert pertigaan Jalan Merak dengan berdandan ala Spider-Man. Pun, aksi unik itu sempat menjadi viral di media sosial.

Dandanan serupa diusung pria parobaya itu saat mengantar material proyek. ‘’Saya pernah pakai ketika antar pesanan material ke Tulungagung, Kediri, Ponorogo, Trenggalek, Pacitan, Ngawi, dan Magetan,’’ ungkap warga Desa Sidorejo, Wungu, Kabupaten Madiun, itu.

Alasan paling mendasar berdandan nyentrik adalah kegemarannya membantu orang lain. Namun, dia tidak ingin dikenali hingga memilih mengenakan kostum Spider-Man. Itu pula yang dilakukan saat memberikan sumbangan ke masjid dan panti asuhan.

Salepo membeli kostum Spider-Man itu dari Hongkong secara online. Dia terpaksa membeli produk impor setelah barang serupa asal Jakarta dan beberapa kota besar lain tidak ada yang cocok. ‘’Ini yang paling nyaman,’’ sambungnya sembari menyebut harga kostum itu di kisaran Rp 2,8 juta.

Pria 50 tahun itu merupakan pemborong proyek. Saat ini dia memiliki enam truk dan puluhan pekerja. Sukses itu tidak diraihnya secara instan. Melainkan melalui perjuangan panjang dan berliku.

Awalnya dia bekerja sebagai buruh tani. Lalu, pada 1993 dia bekerja di sebuah toko bangunan. Tiga tahun berselang Salepo beralih pekerjaan menjadi sopir truk dengan trayek Surabaya-Jakarta selama dua tahun. ‘’Setelah itu pulang kampung,’’ ujar suami Sutirah ini.

Keuletannya bekerja dan rajin menabung membuat Salepo memiliki modal cukup untuk mendirikan CV dan membeli truk. Liku perjuangan saat merintis pekerjaan itu pula yang melatarbelakangi dirinya suka membantu sesama. ‘’Salah satunya membantu mengatur lalu lintas. Nggak minta upah saya, asalkan saya mampu pasti saya bantu,’’ ucapnya. *** (isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here