Atlet Panahan Melimpah, Dana Operasional Cekak

46

PONOROGO sangat dikenal publik sebagai barometer perkembangan olahraga panahan di Jawa Timur. Berbagai prestasi tingkat nasional dan internasional dulu pernah ditorehkan oleh para atlet panahan asal Kota Reyog. Sebut saja Agung Setiono, peraih medali Perak PON 2012 dan Asian University Game di Malaysia 2008.

Selepas Agung, masih ada banyak lagi juniornya yang menorehkan prestasi diberbagai kejuaraan panahan. Salah satunya adalah Ayu Tri Rukmana yang pernah menyabet medali emas Porprov 2013 di Madiun. Lalu, pada Porprov 2015 di Banyuwangi atlet panahan Ponorogo mampu menyumbangkan empat medali emas.

Tapi, tiga tahun berselang prestasi panahan Ponorogo merosot. Ada banyak faktor yang mempengaruhi penurunan prestasi pada cabang olahraga (cabor) panahan tersebut. ‘’Salah satunya adalah penerapan full day school oleh sejumlah sekolah. Sehingga membuat waktu atlet untuk latihan terbatas,’’ ungkap Ketua Cabor Panahan Ponorogo Slamet.

Selain karena terbatasnya waktu latihan, lanjut Slamet, penurunan prestasi cabor panahan disebabkan karena minimnya penyelenggaraan multievent tingkat provinsi seperti Porprov. Dari sebelumnya dua tahun sekali, kini diubah menjadi empat tahun sekali. ‘’Karena kurangnya event, anak-anak (atlet) menjadi malas berlatih,’’ katanya.

Kendati demikian, dia mengaku jumlah atlet panahan di Ponorogo melimpah. Bahkan, saat ini terdapat sekitar 30 atlet panahan yang dibina langsung oleh Perpani secara berjenjang. Di luar itu masih banyak lagi atlet panahan yang tergabung dalam komunitas dan sekolah. ‘’Hampir di setiap sekolah mulai dari jenjang sekolah dasar (SD) sampai SMA ada ekstrakurikuler panahan,’’ ujarnya.

Tapi, Slamet mengaku besarnya minat dari anak-anak akan olahraga panahan itu tidak diimbangi dengan subsidi pendanaan dari KONI Ponorogo. Pada tahun 2018 lalu, Perpani hanya kecipratan Rp 25 juta. Itu pun tidak semua digunakan untuk pembinaan atlet, tapi juga dipakai untuk membiayai kepentingan organisasi. ‘’Dulu kami pernah mendapat anggaran subsidi dari KONI sekitar Rp 100 juta, bahkan sampai Rp 200 juta,’’ sebut dia. (mg7/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here