Atlet Jujitsu Kota Karismatik Berjaya di Ngawi

127

Dua pekan lalu lima atlet jujitsu Kota Madiun berhasil menorehkan catatan impresif. Pada kejuaraan antarpelajar se-Jawa Timur di Ngawi, mereka berhasil membawa pulang empat medali emas dan satu perak.

DENGAN tatapan tajam, Jean Gio Bripdana bersiap beradu jujitsu dengan lawan tandingnya. Setelah melalui beberapa kali pergumulan, Jeje –sapaan akrabnya- berhasil membanting tubuh lawannya ke matras. Dalam hitungan detik, dia lantas mengeluarkan jurus kuncian hingga sang lawan tak berkutik.

Setelah menahannya beberapa menit, terdengar aba-aba dari wasit yang menandakan waktu pertandingan telah usai. Seketika itu Jeja tersenyum lega. Sementara, sang lawan tertunduk dengan ekspresi kecewa. ‘’Ya senang bisa menang, dapat emas,’’ kata bocah 11 tahun itu.

Pada 9 Maret lalu Jeje dan empat atlet jujitsu asal Kota Madiun lainnya seukses memborong lima medali dalam kejuaraan jujitsu antarpelajar se-Jawa Timur di Gedung Eka Kapti Ngawi. Perinciannya, empat emas dan satu perak. ‘’Ini medali emas yang ketiga,’’ ujar pelajar SD itu.

Di babak awal Jeje bertemu lawan siswa SMP dengan bobot tubuh dua kali lipat darinya. Kemudian, mendadak panitia mengganti aturan main. Memisahkan pelajar SMP dan SD. ‘’Yang paling berat lawan pertama,’’ sebutnya.

Lain cerita dengan Kemala Hayati, atlet jujitsu lainnya. Dia nekat berangkat ke Ngawi dengan kondisi tangan kanan sedikit cedera. Padahal, pelatih telah melarangnya ikut bertanding. ‘’Cederanya pas latihan sama teman-teman,’’ tuturnya.

Benar saja, pada babak pertama, cedera di tangan kanannya semakin parah. Itu terjadi saat menahan tubuh lawan di matras. ‘’Jadinya tambah nyeri, sampai sekarang masih terasa sakit,’’ ungkap Kemala.

Akhirnya selama kejuaraan berlangsung dia mengandalkan kekuatan kaki dan tangan kirinya. Di sisi lain, dia berusaha menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan lawan-lawannya. ‘’Kalau ketahuan bisa jadi sasaran pukulan lawan,’’ bebernya.

Kejuaraan jujitsu itu memberikan kesan mendalam bagi Fuad Bagas Nugroho, peraih medali emas kategori junior putra G. Setidaknya, kompetisi tersebut membantunya mengevaluasi kekurangan dirinya sendiri. ‘’Saya biasanya kalau tanding nggak pakai tendangan kaki kiri, kemarin sering saya pakai,’’ kata Fuad.

Mohammad Ibnu Nugroho merasa bangga dengan prestasi anak didiknya. Apalagi, atlet jujitsu polesannya minim pelanggaran selama mengikuti kompetisi di Ngawi tersebut. ***(isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here