Astina Hanifah Petik Puluhan Kilogram Jamur Tiram Sehari

67

PONOROGO – Jamur tak hanya enak disantap sebagai sayur maupun camilan. Juga, kaya manfaat untuk kesehatan. Tak heran bila berdaya jual tinggi. Istri prajurit TNI satu ini menyadari potensi tersebut. Bersama sang suami, dia mengembangkan bisnis budidaya jamur tiram.

Jatuh bangun adalah hal umum dalam setiap kisah rintisan usaha. Kondisi itu juga dialami Astina Hanifah dan Serda Rohman Efendi, anggota Koramil 0802/01 Ponorogo. Pasangan suami istri itu merintis usaha budidaya jamur tiram sejak 2007 silam. 12 tahun berselang, Hanifah tak lagi kebingungan memasarkan. ‘’Dulu masih dititipkan ke pasar. Sekarang pembeli datang sendiri,’’ ujar Hanifah, kepada Radar Ponorogo.

Satu kilogram jamur tiram dihargai Rp 13 ribu. Sementara per hari, Hanifah mampu memanen antara 30 hingga 35 kilogram. Pun, Hanifah telah membudidayakan 20 ribu bibit. Jika 30 kilogram saja, Hanifah meraup untung Rp 390 ribu. Dalam sebulan, jika panen rutin setiap hari, Rp 11,7 juta bisa didapat. ‘’Alhamdulillah bisa berkembang,’’ kata dia.

Merintis usaha, kata Hanifah, memang butuh perjuangan. Pasutri ini mulai tertarik setelah melihat kesuksesan rekan di Bandung, Jabar. Senyatanya, teori budidaya yang didapat tidak mudah diaplikasikan. Ribet. Suhu ruangan harus terjaga 25-28 derajat celsius. Dengan kelembaban udara 80 derajat. ‘’Kalau kelembaban tak terjaga, bisa gagal panen,’’ jelasnya.

Lama budidaya jamur tiram tergolong cepat. Hanya 45 hari, sudah dipanen. Hanifah mengenang, panen pertamanya dulu hanya empat kilogram, dari seribu bibit sebagai awalan bisnis. Panen pertama lantas dibagikan tetangga. Niatan baik Nahifah dan keluarga tak diterima dengan baik. Banyak tetangga yang belum tahu lezatnya jamur tiram. Banyak yang mengira beracun. ‘’Kami tidak menyerah. Selain terus menjalankan budidaya, juga mengikuti seminar-seminar untuk menambah ilmu,’’ kenang dia.

Selain membudidayakan jamur tiram, Hanifah juga menjual bibit. Bahkan, 600 bibit jamur tiram mampu dihasilkan tiap lima hari sekali. Sementara, jamur tiram yang dibudidayakan dikirim ke berbagai daerah sekitar. Hanifah juga mengolah sendiri sebagian hasil panen. Menjadi produk kuliner seperti keripik jamur. ‘’Sekarang, warga di lingkungan sekitar terserap menjadi tenaga kerja. Semoga bisa terus berkembang,’’ harapnya. (naz/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here