Madiun

Asih Sumarsih, Sarjana Ekonomi yang Pilih Jadi Guru Pendamping ABK

Menjadi guru pendamping ABK bukan pekerjaan mudah. Itu pula yang dirasakan Asih Sumarsih. Meski begitu, perempuan tersebut tetap enjoy. Baginya, mampu mengentaskan anak didik dalam kemandirian memberikan kepuasan tak terkira.

—————–

BEBERAPA anak berkebutuhan khusus (ABK) pagi itu tampak berlarian di ruang kelas. Di tengah hiruk pikuk itu, Asih Sumarsih dengan serius mengajari beberapa muridnya mengeja huruf. Sesekali perhatiannya teralihkan jika ada siswa yang tiba-tiba berteriak atau berulah.

Dengan telaten tangan Asih menepuk-nepuk punggung muridnya itu. Kemudian, diusapnya perlahan sampai tenang seperti sedia kala. ‘’Itu salah satu cara menenangkan ABK yang hiperaktif. Saya dapat pengetahuan ini waktu ikut seminar,’’ kata Asih.

Asih merupakan guru pendamping ABK di sebuah sekolah dasar Jalan Anggrek, Kota Madiun. Perempuan 31 tahun itu sudah satu setengah tahun bertugas di sana. ‘’Sebelum di sini saya guru TK/PAUD tiga tahun,’’ ujar warga Jalan Sri Sedono ini.

Mengajar ABK butuh kesabaran ekstra. Sebab, konsentrasi mereka perlu diarahkan dengan perlahan. Murid pertama yang dia dampingi adalah ABK dengan down syndrome. ‘’Dulunya dia sering berlarian, pokoknya nggak bisa diam,’’ bebernya.

Awalnya Asih harus mencari cara agar si ABK tertarik dengannya. Semula dia membawa sejumlah mainan edukatif seperti lego dan kartu bergambar milik keponakannya. Cara tersebut terbukti efektif mengalihkan perhatian ABK. ‘’Setiap hari  saya bawa mainannya gonta-ganti, biar mereka nggak bosan,’’ ungkapnya.

Dia juga mengajarkan ilmu agama kepada mereka. Selain itu, mendampingi anak didiknya agar bisa mandiri. Mulai mencuci tangan sampai pendampingan urusan buang air besar.

Satu hal yang tak kalah penting adalah mengasah bakat ABK. Asih meyakini setiap ABK memiliki kelebihan dan kecerdasan tersendiri. Mulai bakat musik hingga kemampuan mengutak-atik peranti elektronik. ‘’Yang belum kelihatan bakatnya ini ya diasah terus,’’ ucapnya.

Kesibukkan Asih mengajar ABK berlanjut sampai di rumah. Istri Adri Agung ini membuka les privat khusus ABK. Ada tiga anak yang saat ini belajar dengannya. Mulai kelas PAUD sampai SD. ‘’Ada murid saya yang sampai nggak  mau ganti guru les, tapi ada juga yang sampai sekarang belum bisa baca,’’ urainya.

Kemampuan Asih mengajar ABK diperoleh secara otodidak. Maklum, dia merupakan sarjana ekonomi. Lepas kuliah, Asih bekerja di sebuah bimbel. ‘’Lalu, saya buka les privat sendiri. Kemudian, jadi guru TK/PAUD dan sekarang di SD,’’ jelasnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close