Arkeolog Belanda Temukan Gigi Taring

196

NGAWI – Tabir kehidupan zaman purba terus diulik. Tim peneliti dari Museum Natularis Belanda dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional berhasil mengangkat beragam fragmen fosil. Sebuah gigi taring menjadi penemuan anyar hasil proses ekskavasi yang telah dilakukan. Pasalnya, selain homo erectus yang ditemukan Eugene Dubois pada 1890-an, hanya fosil jenis flora dan binatang herbivora yang didapati. ’’Penemuan ini (gigi taring, Red) merupakan hal baru di situs Trinil,’’ kata arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Shinatria Adhityatama, Kamis (4/10).

Adhit –sapaan Shinatria Adhityatama– mengungkapkan bahwa indikasi temuan gigi itu merupakan milik binatang karnivora adalah lantaran bentuknya yang runcing. Sementara sebelum-sebelumnya, penemuan binatang hanya berkutat di lingkup herbivora. Kendati demikian, Adhit bersama timnya tidak mau buru-buru memberi klaim. Sebab, butuh penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah temuan tersebut benar milik binatang karnivora. Pun menentukan spesiesnya. ’’Perlu diteliti lagi untuk kepastiannya sebelum dilakukan publikasi ilmiah,’’ ujar Adhit sembari menyebut lokasi penemuan di Kawasan DAS Bengawan Solo di Desa Kawu, Kedunggalar.

Seperti apa kehidupan zaman purba perlahan menuju titik terang. Satu siung gigi taring tersebut memberi petunjuk luar biasa. Seperti yang menjadi tujuan utama penelitian tersebut. Yakni, untuk mengetahui seperti apa lingkungan dan cara hidup homo erectus pada masanya. Pun, segala sesuatu yang bertalian dengan manusia purba tersebut. ’’Penelitian ini bermula saat Josephin Joordens dari Museum Naturalis menemukan semacam garis pada permukaan kerang yang dibawa Eugene Dubois dari sini,’’ terang Adhit.

Guratan pada kerang tersebut memunculkan tanda tanya besar. Homo erectus yang awalnya dianggap primitif, muncul asumsi peradaban dengan intelektualitas seperti itu. Yakni, semacam taste seni yang berlangsung pada zaman purba tersebut. Pun, ekskavasi kali ini juga mendapatkan jenis kerang air tawar yang sama dengan yang tersimpan di Museum Naturalis Belanda. ’’Hasil percobaan laboratorium, garis-garis tersebut dibuat dengan goresan gigi hiu. Ini menjadi hal yang menarik lagi untuk dunia ilmu pengetahuan,’’ paparnya.

Seperti apa cara hidup homo erectus, seperti apa lingkungannya, hidup berdampingan dengan flora dan fauna apa saja, menjadi tujuan penelitian dengan durasi kerja sama selama lima tahun itu. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti-peneliti kelas dunia dilibatkan. Baik dari dalam maupun luar negeri. Ahli biologi, arkeologi, beserta ahli geologi sama-sama mengencangkan ikat pinggang melakukan penelitian. ’’Kalau tidak ada kendala, publikasi ilmiah direncanakan tahun ketiga nanti,’’ sebutnya.

Meneliti segala sesuatu di masa lampau tidak segampang membalikkan telapak tangan. Adhit mengatakan, sampel-sampel hasil ekskavasi akan diterbangkan ke luar negeri. Hipotesis-hipotesis awal bakal dipertegas lagi keakuratannya. Di samping itu, dia mengatakan bahwa tidak ada fosil yang akan diangkut ke Belanda untuk diteliti. Melainkan, sebatas sampel dan sedimentasi tanah untuk mengetahui ketetapan tahun berlangsungnya peradaban homo erectus. ’’Penelitian ini kompleks nantinya. Gol yang ingin kami raih adalah merekonstruksi seperti kehidupan pada masa itu, termasuk lingkungannya,’’ ungkap Adhit. (mg8/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here