Aries Mashudi, Tak Ada Alasan untuk Menyerah Mensyiarkan Islam

22

Meniti pengalaman dari bawah, Aries Mashudi tahu betul seluk beluk MUI Pacitan. Pada awal keanggotaannya 1975 silam, dia langsung ditunjuk sebagai sekretaris. Berbekal ilmu serta keaktifannya berorganisasi, sejak dua periode lalu didaulat sebagai ketua umum MUI Pacitan.

——————

SUGENG DWI N, Pacitan

DI RUMAH bercat hijau itu Aries menghabiskan masa pensiunnya. Di sisi barat alun-alun Pacitan. Ingar bingar aktivitas warga jelas terdengar dari dalam ruang tamunya. Bapak lima anak itu asyik membaca buku. ‘’Sudah biasa, jadi gak terlalu terganggu,’’ kata Ketua Umum MUI Pacitan Aries Mashudi.

Berlatang belakang keluarga agamis, Aries muda getol bergmbung dengan organisasi Islam maupun umum. Salah satunya Pelajar Islam Indonesia (PII). Gabungan pelajar dari Muhamadyah, NU dan ormas Islam lainnya. Itu membuat pria yang juga ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Pacitan itu paham betul perbedaan. Dari situ dia belajar. ‘’Dalam pemahaman dan ilmu kita harus luas, namun luwes dalam penerapannya di masyarakat,’’ tuturnya.

Tak hanya PII, sedikitnya 17 organiasasi sempat diikuti. Pun sempat aktif di beberapa partai politik. Di antaranya Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) hingga memegang jabat strategis di Partai Golkar. Kepiawaianya dalam ilmu agama juga menhjadikannya pendakwah di seantero Pacitan. Termasuk lokasi yang sulit di tempuh kendaraan. ‘’Sebagai ulama jalan sulit harus tetap dilalui. Tak ada alasan untuk menyerah mensyiarkan Islam,’’ ujar pria kelahiran 15 Juni 1957 ini.

Aktif di organisasi Islam sejak muda, Aries tahu betul dampak perkembangan zaman saat ini. Termasuk dalam sisi keagamaan para muda-mudi di Pacitan. Tingginya modernsisasi serta perkembangan wisata membuat para pemuda terpecah dalam dua kelompok. Satu kelompok teguh memegang agama. Taat beribadah dan mengajak menyebarkan Islam. Sementara kelompok lainnya terjerumus pergaluan bebas dan hura-hura. Melihat kondisi itu dia hanya bisa menghela nafas panjang. Pun mewanti-wanti para penerusnya. ‘’Perkembangan wisata itu bagus, namun kita butuh pengawasan yang baik agar tak jadi ajang maksiat,’’ tambah sarjana Pendidikan Agama Islam ini.*** (sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here