Ponorogo

Arga Rita Saputra Tetap Ngloper Koran meski Telah Berseragam PNS

Dia yang kini telah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS), tetap setia melakoni pekerjaan lamanya sebagai loper koran. Arga Rita Saputra tahu betul cara menghargai perjuangan hidup.

———–

NUR WACHID, Ponorogo

SENYUM manja putrinya yang masih tiga tahun menyambut kedatangan Arga Rita Saputra. Disusul istrinya dari kios jilbab di depan rumahnya. Sejak pukul 04.30, Arga keluar rumah mencari nafkah dan baru pulang ketika siang hari. Dua pekerjaan dilakoni sepenuh hati. ‘’Tetap jadi loper, karena ini yang memberikan nafkah keluarga sebelum saya jadi PNS,’’ kata Arga.

Rumah Arga berjarak seraturan meter dari turunan tajam selatan Pasar Pulung. Dekat gapura besar dan SMP Muhammadiyah Pulung di selatan jalan. Siang itu, Arga usai menghadiri halal-bihalal guru se Kecamatan Pulung.

Meski telah mapan, Arga tidak meninggalkan pekerjaan lamanya. Mengantarkan koran bagian dari perjuangan hidupnya. Karena itu, dia tak ‘’pensiun’’ dari loper koran sejak 2016 meski dua tahun setelahnya lolos seleksi CPNS. Sejak itulah, dia mengajar di SDN Banaran, Pulung. Suka duka dan air mata mewarnai perjalanan hidupnya. ‘’Ini yang selalu saya ceritakan kepada murid sebagai motivasi meraih cita-cita,’’ tegasnya.

Sebelum menjadi PNS, Arga tercatat sebagai guru tidak tetap (GTT) di SDN 2 Wagir Kidul sejak 2009. Penghasilannya yang pas-pasan membuatnya harus mencari pekerjaan sampingan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika itu, usai mengajar dia bekerja serabutan. 2016 lalu dia mendapatkan tawaran menjadi loper untuk enam kantor desa di Kecamatan Pudak. Tanpa berpikir panjang, dia pun mengamini tawaran tersebut. Meskipun dia tahu jarak dengan rumahnya sekitar 15 kilometer. Dan harus melalui medan esktrem dengan tanjakan dan turunan khas jalan pegunungan. ‘’Eman kalau ditolak. Penghasilannya bisa buat mencukupi kebutuhan keluarga,’’ ungkap pria kelahiran 1990 itu.

Sejak itu, Arga harus berangkat dari rumah pukul 04.30. Untuk mengambil koran ke kantor biro Radar Ponorogo di wilayah kota. Jaraknya lebih dari 20 kilometer. Usai mengambil Koran, dia harus balik lagi ke arah timur mengantarkan koran. Bolak-balik, dia menempuh perjalanan hingga 90 kilometer untuk mengambil dan mengantarkan koran hingga sampai ke pelanggan. Aktivitas itu pun dilakoni dengan berkejaran waktu. Sebab, dia juga harus mengajar muridnya pukul 07.00. ‘’Sampai sekarang belum pernah sekalipun terlambat ke sekolah,’’ sambungnya.

Menjadi loper bukan perkara mudah. Ketika hujan, dia harus melindungi koran agar tidak basah dan bisa terbaca pelanggan. Setahun kemudian, Arga mendapat wilayah baru. Dia ditugaskan mengantarkan koran langganan ke 15 balai desa di Kecamatan Pulung. Itu menjadi nafas segar buatnya. Sebab, di wilayahnya sendiri. Meski demikian, jalan menanjak dan turun terjak dilewati setiap hari. Meski baru kali pertama mencoba peruntungan, Arga dinyatakan lolos seleksi CPNS 2018. Dia pun tak mengira lantaran setiap ada seleksi CPNS dia selalu enggan mencobanya. Alasan hanya orang yang punya uang yang bisa lolos mengecilkan hatinya. Namun, cerita itu ditepis sejak dirinya diterima menjadi CPNS. ‘’Dulu ikut tes satpam, karyawan, tapi nggak diterima. Akhirnya menjadi loper dan inilah perjuangan saya,’’ ucapnya. *** (fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close