Ardhianto Leksono, Kasubsimin BMP Lanud Iswahjudi yang Juga Seorang MC

143

Di lingkungan Lanud Iswahjudi, nyaris tak ada yang tidak mengenal Mayor Kal Ardhianto Leksono. Maklum, dia kerap didapuk menjadi MC berbagai acara di lanud setempat. Bahkan, tiga tahun lalu Ardhianto sempat jadi pemandu acara di depan petinggi TNI AU di Jakarta.

————–

SELEPAS magrib, tamu undangan mulai mengalir ke gedung Puri Ardhya Garini Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta. Saat jarum jam menunjukkan pukul 19.00, acara tasyukuran peringatan HUT ke-71 TNI AU itu pun dimulai. Ardhianto Leksono bersama partner master of ceremony (MC)nya menyapa audiens.

Ardhianto lalu menuruni anak tangga panggung dan berjalan mendekati undangan. Di hadapan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kepala Staf Angkatan Udara kala itu), dia memeragakan sulap sederhana seolah melihat aura. Lantas muncul cahaya merah dari jempolnya. ‘’Bapak ini pria Susuki Katana, maksudnya sungguh-sungguh lelaki kalem tapi memesona,’’ ujarnya disambut gelak tawa seisi gedung.

Namun, sebelum piawai mencairkan suasana dengan guyonannya, Ardhianto beberapa kali mengalami kejadian kurang mengenakkan. Saat didapuk MC acara kedinasan di  Makassar, misalnya. Seperti biasanya, warga Jalan Mliwis, Maospati, Magetan, itu membuka event dengan gurauan.

Namun yang terjadi, tidak terlihat satu pun tamu yang tertawa. ‘’Saya kebingungan waktu itu. Karena jarak panggung dan tamu jauh, mereka ngobrol sendiri. Sejak itulah saya selalu turun dari panggung,’’ kenang anggota TNI AU berpangkat mayor kal ini.

Selain menjabat kepala Sub Seksi Admintrasi Bahan Bakar Minyak dan Pelumas (Kasubsimin BMP) Lanud Iswahjudi, Ardhianto memang kerap ditunjuk sebagai MC beragam acara penting. ‘’Lebih seringnya acara kedinasan, kalau non-dinas berbenturan dengan kesibukan kerja,’’ paparnya sembari menyebut pada November 2018 lalu menjadi MC di resepsi HUT ke-62 PIA Ardhya Garini pusat.

Ketika tampil memandu acara, dia punya ciri khas yang sengaja dipertahankan sampai sekarang. Yakni, melengkapi kostum dengan blangkon atau flat cap. Aksesoris itu membuatnya lebih luwes dan dan mengurangi kesan formal. ‘’Pernah pakai celana dan sabuk golf, warna atasan dan celananya mencolok,’’ papanya.

Bagi Ardhianto, menjadi MC di acara kedinasan berbeda dengan MC pada umumnya. Sebisa mungkin tidak berlebihan ketika melawak di hadapan tamu. ‘’Jadi, tetap ada kontrolnya,’’ sebutnya.

Mengonsep joke juga tak kalah penting. Sumber isnpirasinya bisa datang dari mana saja. Misalnya, menghadiri pengajian ustad yang humoris, menonton pertunjukan wayang, menyaksikan video lucu Cak Percil, Kuntet di YouTube, atau stand up comedy. ‘’Kadang dengerin radio di mobil juga jadi ide,’’ ungkapnya.

Bapak satu anak ini kali pertama didapuk MC 13 tahun silam. Kala itu dia masih berpangkat kopral. Kepiawaian Ardhianto memandu acara tidak terlepas dari kepribadiannya yang supel dan humoris. ‘’Pertama jadi MC saat di AAU Jogjakarta,’’ bebernya.

Ardhianto lebih enjoy menjadi pemandu acara jika ada teman duetnya. Tampil berdua memudahkan interaksi dengan audiens. ‘’Ibarat makan tanpa kerupuk. Kurang gurih rasanya kalau nggak ada yang mancing,’’ ujarnya. ***(dila rahmatika/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here