Madiun

Aplaus Smart City

Penulis adalah Walikota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

MINGGU kemarin, tepatnya Senin hingga Rabu lalu, merupakan hari yang cukup sibuk bagi saya. Tidak hanya karena banyak kegiatan. Namun, juga karena kegiatan di dalamnya cukup menyita perhatian dan pikiran. Saya bersama tim tengah berada di Ibu Kota di hari-hari itu. Tepatnya, di Balai Sudirman, Jakarta. Bukan tengah pelesir. Tetapi ada satu urusan penting terkait kota kita ini ke depan. Terkait konsep smart city yang sejak beberapa bulan kita susun. Kemarin bisa dibilang puncak dari penyusunan konsep kota cerdas itu. Yaitu, pemaparan konsep dihadapan penguji.

Saya paparkan langsung. Tentu ditemani tim. Ada Pak Sekda juga di samping saya. Dari 25 kota dan kabupaten yang harus memaparkan konsep kota pintarnya, kota kita masuk di grup A yang berisi sepuluh pemda lain di hari itu. Waktunya, juga agak belakang. Nomor tiga dari yang terakhir. Kita mulai pemaparan menjelang petang. Hampir masuk waktu salat magrib. Waktu pelaksanaan memang molor sejak awal. Ini menjadi beban tersendiri. Lima penguji dari ITB, praktisi IT, Kemenkominfo, Staf Presiden, dan konsultan smart city sudah terlihat lelah. Maklum, mereka sudah menguji sejak pagi. Terbagi dua sesi. Empat pemda di sesi pagi. Enam lainnya termasuk Kota Madiun di sesi kedua. Itu baru di hari kedua. Mereka sudah menguji sejak sehari sebelumnya.

Wajah-wajah tak mengenakkan terlihat sejak menit awal. Saya bisa memahami itu. Apalagi, kegiatan pemaparan dilakukan secara kontinyu. Istirahat hanya saat jeda sesi. Itu pun hanya satu jam. Padahal dalam satu pemaparan ada banyak hal yang dinilai. Terutama enam pilar smart city. Yaitu, smart governance, smart branding, smart economy, smart society, smart living, dan smart environment. Dalam satu pilar biasanya lebih dari satu program yang disuguhkan. Tergantung pemda masing-masing. Dikali sepuluh pemda di hari itu. Berapa progam yang harus mereka uji. Itu belum termasuk quick win-nya. Capek pastinya.

Melihat itu, pemaparan saya harus beda. Paling tidak ada humornya. Untuk mencairkan suasana. Saya selipkan cerita saat kunjungan kerja walikota bersama rakyat. Saat kunker itu memang selalu ada cerita menarik. Seperti saat di Kelurahan Banjarejo dengan dua narasumber masyarakat setempat yang sudah lanjut usia. Cerita tentang dua nenek berusia 110 tahun dan 88 tahun itu juga pernah saya tulis pada edisi lalu. Berhasil. Penguji mulai tertarik. Suasana jadi lebih cair. Dari situ, saya semakin percaya diri untuk memaparkan konsep smart city kita. Program-program di enam pilar tadi.

Di bidang smart governance, kota kita sudah banyak memiliki program berbasis elektronik. Mulai perencanaan (e-planning), penganggaran (e-budgeting), dan lain sebagainya. Itu juga didukung dengan layanan berbentuk aplikasi di sejumlah OPD. Di bidang smart branding, kota kita tengah mengkonsep PeceLand yang sekaligus menjadi quick win smart city Kota Pendekar. Pencak silat dan makanan khas Pecel Madiun juga tak lupa saya paparkan.

Bidang smart economy, kita punya sunday market, pelatihan kerja dan keterampilan, serta didukung program internet gratis dengan 1.400 titik hingga di Poskamling. Untuk smart living-nya, saya paparkan penerapan CCTV di setiap persimpangan jalan dan jalur sepeda. Hal itu tentu untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat. Selain itu, program urusan kesehatan juga tak ketinggalan. Bagaimana bisa hidup nyaman kalau tidak sehat. Itu sudah terbukti di Kota Madiun dengan angka harapan hidup masyarakat mencapai 72,49 tahun.

Di bidang smart society, saya banyak memaparkan program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti jagong bareng mahasiswa di warung kopi, menginap semalam di rumah warga rangkaian Walikota Bersama Rakyat tadi hingga gerakan Salat Subuh berjamaah. Sedang, bidang smart enverionment, banyak berbicara tentang konsep kota sejuta bunga hingga kebersihan lingkungan yang berbasis masyarakat. Seperti yang sudah berjalan di Kelurahan Klegen, pembersihan sungai maling di sana sudah menjadi tanggung jawab dua warga setempat. Mereka mendapat gaji dari pemerintah. Karena yang membersihkan warga setempat, warga lain malah ikut menjaga. Tidak membuang sampah ke sungai lagi. Jadi sungkan.

Program-program yang melibatkan partisipasi masyarakat tersebut ternyata menarik di mata penguji. Mereka cukup antusias. Yang membuat saya heran, mereka memberikan aplaus di akhir pemaparan. Ini berbalik 180 derajat dari kondisi saat menit-menit awal. Tidak banyak pertanyaan karena menurut mereka pemaparan sudah cukup detail dan komprehensif. Padahal, sebelumnya saya mendapat informasi salah seorang penguji dari kementerian cukup kritis dan banyak bertanya. Kemarin tidak terlihat seperti itu. Ah, saya tidak mau berasumsi macam-macam. Mungkin saya dan tim sedang beruntung. Aplaus untuk smart city kita. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close